Menyoal Toleransi dalam Konsep Unity

Sumber Foto: Nasaruddin Umar Office (NUO)


Pluralisme adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal. Kita hidup di tengah masyarakat yang terdiri dari beragam agama, suku, budaya, bahasa, tradisi, bahkan cara berpikir. Kemajemukan bukanlah sesuatu yang harus diciptakan, melainkan fakta yang sudah ada sejak manusia dilahirkan.

Dalam logika, setiap sesuatu memiliki identitasnya sendiri. A tetaplah A, bukan B atau C. Setiap makhluk membawa keunikan yang tidak dimiliki makhluk lain.

Lihatlah dua produk ponsel dengan merek dan tipe yang sama. Sekilas tampak identik, tetapi keduanya tetap berbeda—baik dari nomor seri, waktu produksi, maupun detail lainnya. Begitu pula saudara kembar. Mereka disebut mirip, bukan sama. Tidak ada satu pun ciptaan yang benar-benar identik.

Semua itu menunjukkan kebesaran Allah. Dari Yang Maha Esa (al-Wahid), lahirlah keberagaman ciptaan (katsrah). Dalam ungkapan para sufi disebut:

"Al-Wahdah fi 'ain al-Katsrah wa al-Katsrah fi 'ain al-Wahdah."

Kesatuan hadir dalam keberagaman, dan keberagaman bersumber dari satu kesatuan.

Manusia pun demikian. Kita dilahirkan dengan fisik, budaya, bahasa, sejarah, lingkungan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Masing-masing membawa singularitas, tetapi hidup bersama dalam pluralitas.

Kesadaran akan kenyataan inilah yang melahirkan toleransi, yaitu sikap menerima, menghormati, dan menghargai perbedaan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

"Imma akhun laka fid-din wa imma akhun laka fil-khalq."

"Manusia adalah saudaramu; bisa jadi saudara dalam agama, atau saudara dalam kemanusiaan."

Namun, toleransi sering kali berhenti pada pengakuan terhadap perbedaan. Bahkan dalam praktiknya, ia tidak jarang dipengaruhi oleh relasi mayoritas dan minoritas.

Kelompok minoritas terkadang bertoleransi karena merasa tidak memiliki kekuatan. Sebaliknya, kelompok mayoritas terkadang bertoleransi karena ingin menunjukkan kebesaran hati. Akibatnya, toleransi berubah menjadi sekadar kompromi sosial, bukan lahir dari kesadaran yang paling mendasar.

Di sinilah pentingnya melangkah lebih jauh, dari sekadar toleransi menuju unity (kesatuan).

Mengapa?

Karena toleransi masih memandang manusia sebagai kelompok-kelompok yang berbeda. Sementara unity mengajak kita melihat sesuatu yang lebih mendasar, yaitu hakikat keberadaan.

Apa yang sama dari seluruh makhluk?

Jawabannya adalah eksistensi.

Semua makhluk memiliki identitas yang sama: sama-sama ada. Batu ada, pohon ada, hewan ada, manusia ada. Keberadaan itu tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi dianugerahkan oleh Sang Maha Ada. Sebab sesuatu yang tidak ada mustahil dapat mengadakan sesuatu.

Ketika kita menyadari bahwa seluruh keberadaan bersumber dari Yang Satu, maka kita akan memahami bahwa segala bentuk perbedaan hanyalah manifestasi dari satu sumber yang sama.

Seperti angka. Dua sebenarnya adalah satu ditambah satu. Tiga adalah satu yang dijumlahkan tiga kali. Bahkan miliaran pun hanyalah kumpulan angka satu yang terus bertambah.

Begitu pula seluruh makhluk. Banyak pada penampakan, tetapi satu pada asal-usul keberadaannya.

Di sinilah letak perbedaan antara toleransi dan unity.

Toleransi melihat manusia sebagai "aku" dan "kamu", lalu mengajarkan agar keduanya saling menghormati.

Sedangkan unity melihat bahwa "aku" dan "kamu" berasal dari sumber yang sama. Yang berbeda hanyalah bentuk, sifat, pengalaman, dan perjalanan hidupnya.

Karena itu, unity tidak menghapus perbedaan, tetapi menempatkan perbedaan pada proporsi yang benar. Yang menjadi pusat perhatian bukan lagi identitas yang memisahkan, melainkan asal-usul yang menyatukan.

Sebenarnya kita adalah satu, bukan dua.

Kita lahir dari asal yang sama, menghirup udara yang sama, berpijak di bumi yang sama, dan pada akhirnya kembali kepada Tuhan yang sama.

Perbedaan yang kita lihat hanyalah warna kulit, bahasa, budaya, agama, cara berpikir, dan pengalaman hidup. Semua itu adalah wajah-wajah yang berbeda dari satu realitas yang sama.

Tidak ada "aku" tanpa "kita". Tidak ada "mereka" tanpa kemanusiaan yang menyatukan kita.

Karena itu, tujuan kita bukan berhenti pada toleransi. Toleransi adalah langkah awal yang penting, tetapi perjalanan manusia tidak boleh berhenti di sana. Kita perlu melangkah menuju kesadaran yang lebih tinggi, yaitu menyadari bahwa kita adalah satu keluarga besar dalam keberadaan.

Saat seseorang terluka, sesungguhnya kemanusiaan ikut terluka. Saat seseorang bangkit, harapan seluruh manusia ikut tumbuh.

Jangan biarkan perbedaan menjadi tembok yang memisahkan. Jadikan ia jendela untuk melihat kebesaran Tuhan yang menghadirkan keindahan dalam keragaman.

Sebab pada akhirnya, yang menyatukan kita bukan sekadar kesamaan identitas, melainkan kesamaan asal-usul keberadaan: berasal dari Yang Satu dan akan kembali kepada Yang Satu.

Wallāhu A'lam bi al-Ṣawāb.

_Diramu dari pidato Prof. Nasaruddin Umar, pada perayaan Malam Celebrating Harmony Rukun Festival oleh Nasaruddin Umar Office_

Comments

Popular posts from this blog

Falsafah Tahun Baru

“USSUL” CARA ORANG MANDAR MERAYU TUHAN (Kajian budaya Habib Ahmad Fadhl al-mahdaly)

SALAH POTONGAN RAMBUT BISA MEMICU KEMATIAN (Kisah teman yang terbeban jiwa)