Antara cinta dan keberanian

KETIKA MANDAR BICARA CINTA DAN KEBERANIAN

Oleh: Farham Rahmat

Santri Millenial

Al-kisah ketika dua sejoli yang sedang berpacaran diluar batas batas norma dan syariat, mengakibatkan perzinahan. Masing masing mempunyai keluarga yang sama memegang erat tradisi norma adat yang ada. Bedanya hanya kaum perempuan tidak sanggup menahan tekanan psikologis dosa yang telah diperbuat dan tidak akan bisa menyembunyikan hasil perbuatannya secara biologis. Mengapa ? sederhana alasannya, bahwa mual mual dan kehamilan hanya ada pada perempuan bukan pada laki laki. Sehingga siapapun yang melihatnya akan menjadi petunjuk  bahwa dia telah berzina. Indikasi inilah yang selalu akan menghantui perempuan sampai psikologisnya akan tertekan.

Sampai saat keluarga perempuan mengetahui hasil perbuatan anaknya, sang ayah bukan malah mencari dan menyuruh laki laki untuk menikahi anaknya, atau mungkin menghukum dengan syriat islam atau hukum adat. Malah membiarkan laki laki tersebut bebas berkeliaran kemanapun yang ia sukai tanpa ada ancaman dan peringatan yang akan mengenainya. Tapi dengan satu catatan, tempat yang terlarang  dan haram laki laki tersebut untuk menginjakkan kakinya adalah rumahku atau rumah perempuan yang telah ia zinahinya. Jika sampai laki laki tersebut melanggarnya, maka hak ayah perempuan tersebut untuk berbuat apapun yang ia sukai, tak peduli norma dan hukum syariat manapun.

Hasrat laki laki selalu ingin menemui sang pujaan hati dan hendak untuk menikahinya. Sungguh benar perasaan tanggungjawab akan ditunaikan olehnya. Dia yang berbuat dan dia pula yang akan bertanggungjawab. Meskipun kebebasan telah dia raih dari ayah perempuan tersebut, tentunya bisa terbebas dari ikatan pernikahan, namun perasaan gunda selalu menghampirinya walau dia tahu seluruh tanah di penjuru dunia ini adalah hak kebebasannya, tapi semua itu tak berarti dibandingkan dengan sebidang tanah tempat berdiam seorang kekasihnya. Akhirnya memutuskan untuk memohon izin kepada sang ayah perempuan untuk melamar anaknya.

Belum sampai menginjakkan kakinya di tangga, ayah perempuan keluar dari rumah dan mengancamnya untuk membunuhnya. Sehingga laki laki ini meminta tolong kepada tokoh pemberani asal mandar yaitu  Sayyid H.S. Mengga untuk melakukan proses lobby berbicara dengan baik baik. Selang beberapa waktu Sayyid H.S Mengga terus menekan dan memaksa namun dia mendapatkan lontaran syair keberanian. “Saya memang bukan siapa siapa, bukan sayyid, bukan kaum bangsawan, bukan ulama  dan bukan orang sholeh. Tapi dalam hatiku masih ada rasa malu. Sampai aku mati  rasa malu ini tetap kupertahankan apapun yang terjadi, sebab hanya itulah bukti saya dianggap seorang muslim oleh manusia  dan menjadi bukti dalil akan keislamanku dihadapan Allah” jika laki laki tersebut masih berani ingin menginjakkan kaiknya di rumahku, maka wahai alam dan manusia saksikanlah, jangan menyesalkan apa yang tejadi setelah itu.

Begitu besar sumpah seorang ayah dan Mendengar syair ini, Sayyid H.S Mengga mundur dan mengumumkan bahwa masalah ini amat besar, tak ada besi yang bisa menggentarkan dan tak sepatah kata pun yang bisa menembus pendirian ayah perempuan ini. Niat laki laki hancur dan tidak terealisasikan sesuai inginnya. Maka kembalilah dia kerumahnya sambil memikirkan cara penyelesain selanjutnya. Niat bertanggungjawab sangat kuat mendorongnya sehingga mendatangi rumah perempuan seorang diri. Naik tangga perlahan lahan, lalu mendapati isi rumahnya tidak seorang pun, spontan ayah perempuan melihat laki laki tersebut.

Al-kisah, Maka sang ayah pun menyeret anak perempuannya keluar dari kamar dan lansung menikam perutnya dengan sebilah keris dihadapan laki laki tersebut. Matilah perempuan itu dan kandungannya. Sang ayah berkata “Saya sudah peringatkan, jangan menyesalkan apa yang terjadi, rasa malu itu menyiksa dan menggerogoti hatiku” selang beberapa saat keris yang sama juga membunuh laki laki tersebut. Dosa perzinahan mereka telah diampuni didunia dengan membunuh. Rasa malu dihadapan Allah dan manusia telah tertebus, Setelah itu adalah urusan akhirat.

(Ditulis Dari Sejarah Penuturan Annangguru Habib Fadhl Al-Mahdaly )

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

KETIKA YANG PAKAR MALAH DIABAIKAN

LITERASI DIGITAL UNTUK DESA