Genealogi dan Diaspora Ulama Mandar

GENEALOGI DAN DIASPORA ULAMA MANDAR

(Orasi DR. Muhammad Zain. M.A.)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Millenial

Masih dalam suasana malam keakraban (MAKRAB SANDEQ) mahasiswa Sulawesi barat, Bersama DR. Muhammad Zain. Beliau melanjutkan bahwa selain mempunyai daya juang dan keberanian seperti karakter laut, manusia Mandar juga sudah memiliki lintas jaringan intelektual. Para ulama-ulama Mandar telah melakukan globalisasi terbuka dengan menerima unsur luar. Pada awal abad 19 sampai 20 an, ulama Mandar sudah connect dengan jaringan ulama internasional khususnya Mekkah dan Madinah (HIJAZ). Diantara ulama-ulama itu DR. Muhammad Zain menyebutkan satu per satu, diantaranya.

H. Syekh Muhammad Tahir (Imam Lapeo) sudah melakukan rihlah ilmiah dan perjalanan spiritual ke makkah dan madinah, bahkan ada yang menyebutkan beliau sampai ke Istambul Turki. Disanalah beliau belajar tarikat syaziliah kemudian diajarkan di tanah mandar ketika kembali.  Hal ini diperkuat dengan peninggalan menara masjid lapeo yang sangat mirip dengan menara-menara masjid yang ada Istambul Turki, sehingga masyarakat akrab memanggil imam lapeo dengan nama “Kanne Umbul” panggilan akrab seperti ini mempunyai hubungan erat dengan istambul, sebab “Umbul” diambil dari kata Istambul.

Selanjutnya ulama Mandar yang juga berpengaruh ada K.H. Muhammad Arsyad, atau dikenal dengan nama K.H. Maddappungan. Beliau melakukan rihlah ilmiah ke mekkah pada umur yang masih belia, disana K.H. Maddappungan bertemu dengan syekh Said Al-Yamani, karena keduanya sangat bersahabat maka kemudian namanya diabadikan pada pondok pesantren Hasan Yamani mengambil dari nama putranya Hasan Al-Yamani. Begitupun saat terjadi huru hara di Mekkah, syekh Said Al-Yamani memilih untuk menetap di Mandar, kampung halaman sahabatnya K.H. Maddappungan tepatnya di campalagian selama sepuluh tahun.

Lebih menariknya lagi, Syekh Said Al-Yamani memilih ke campalagian untuk menetap lama disana padahal dari Indonesia ada beberapa muridnya selain K.H. Maddapungan, diantaranya ada ayahanda Buya Hamka dari Sumatra barat dan kakek Said Aqil Sirodj Al-Munawwar dari Palembang, namun Syekh Said Al-Yamani tidak ke Sumatra barat juga tidak ke Palembang sama sekali, malah lebih memilih ke Campalagian. Ini menandakan bahwa hubungan persahabatan atara Syekh Said Al-yamani dan K.H. Maddapungan sangat erat.

Kemudian, DR. Nawawi Yahya dari Manjopai desa Karama, melakukan diaspora ke Mesir, berhasil mencapai gelar Doktor pertama se asia tenggara di Al-Azhar University kairo. Dia adalah Doktor yang disertasinya sangat lengkap tentang pembahasan zakat, Yusuf Qordhowi menuliskan bab zakat hanya seribu halaman, sementara DR. Nawawi Yahya memiliki karya sampai tiga ribu lebih halaman, membahas kurang lebih tiga ratus permasalahan mengenai zakat termasuk zakat kos kos-an.

Selain itu, ulama Mandar juga dikenal K.H. As’ad atau dikenal dengan nama H. Daeng yang berasal dari tinambung, beliau juga melakukan rihlah ilmiah ke Mekkah, belajar disana dan kembali ke indonesia memakai kapal selam buatan jerman, karena H. Daeng menggunakan perahu kecil yang disebut Lopi Sandeq dalam mengarungi rihlah ilmiah ke Mekkah, ditengah perjalanan kapalnya ditarik oleh kapal besar dari jerman dan pulang dengan kapal selam dari jerman juga.

Kemudian juga ada K.H. Muhammad Sholeh pendiri tarekat Qodiriyah Indonesia timur, lama di makkah dan berguru langsung kepada Syekh Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani “Liyatafaqqahu Fi Al-Din”, dan kembali ke tanah air setelah enam belas tahun lamanya, mendapat sertifikat legalitas dari Syekh Habib Al-Haddad dan menyeberkan tarekat qodiriyah di mandar, yang sampai sekarang masih memiliki banyak murid. Artinya pemikiran islam di mandar mencapai titik kulminasi dari berbagai aliran pemikiran di dunia islam. Islam mandar adalah islam metropolis, sebab disana lahir ulama yang sejajar dengan ulama internasional.

Belakangan lahir tokoh Mandar pendekar hukum, yang masih continue dan bersambung dengan ulama mandar, beliau adalah Baharuddin lopa, bukan ulama namun lahir di lingkungan ulama yang dikenal dengan pambusuang. peradaban mandar sangat terlambat dikenal karena mengalami tiga fase penjajahan, VOC, jepang dan batalion tujuh sepuluh. Setelah tiga fase penjajahan tersebut, mandar kembali ke ranah ilmiah, dan Baharuddin Lopa adalah sarjanawan pertama yang lulus dari Makassar. Beliau pernah menjabat duta besar Indonesia untuk Arab Saudi, Komnas HAM dan menjadi Mentri hukum dan Hak Asasi Manusia Republic Indonesia. Tokoh mandar yang sejajar dengan beliau juga ada Basri Hasanuddin, pernah menjabat sebagai Rector Universitas Hasanuddin Makassar, menjadi duta besar Indonesia untuk Iran dan menjadi Mentri Coordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republic Indonesia.

Perjuangan para ulama dan tokoh Mandar ini tidak dilihat dari kesuksesannya, melainkan kualitas dalam diri yang tinggi serta ketangguhan yang menjadikannya sukses. DR. Muhammad Zain berpesan kepada mahasiswa rantau dari Mandar bahwa kita adalah suku yang cerdas dan mengedepankan nilai siri’. Transformasi diri menjadi berkualitas adalah gambaran dari meritokrasi, yaitu demokrasi yang mengedepankan nilai kualitas dan berkapasitas yang tinggi. Tidak terlena dengan pendahulu Ulama dan tokoh Mandar yang cerdas dan sukses. Jadikan buku sebagai teman akrab, sebab buku mampu menjaga kewarasan suatu bangsa.

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

“USSUL” CARA ORANG MANDAR MERAYU TUHAN (Kajian budaya Habib Ahmad Fadhl al-mahdaly)

SALAH POTONGAN RAMBUT BISA MEMICU KEMATIAN (Kisah teman yang terbeban jiwa)