Hari raya idul Adha Terapi Humanis

*IDHUL ADHA TERAPI HUMANIS DAN SOLIDARITAS*

 _Oleh: Farham Rahmat

Santri Millenial_

Al-kisah setiap hari raya idul adha Rasulullah selalu membeli seekor domba yang berbuluh putih bertanduk kuat dan berbadan gemuk, beliau mendirikan sholat id dan menyembelih domba tersebut, beliau meletakkan telapak kakinya diatas tubuh domba seraya berdo’a “ _Ya Allah terimalah persembahanku dari Muhammad dan Ummat Muhammad_ ” kemudian menyembelih domba tersebut dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Rasulullah membaringkan domba yang lain seraya berdo’a lagi “ _Ya Allah terimalah ini dari ummatku yang tidak mampu berqurban_ ” sebagian daging domba dimakan oleh beliau dan sebagian besarnya diberikan kepada umatnya yang fakir miskin.

Ibadah yang kita yakini hanya satu kali dalam satu tahun ini menjadi Sunnah muakkad sesuai dengan riwayat yang masyhur oleh( Imam ahmad, abu dawud, at-tirmidzi dalam kitab nayl al-awthar bab 5 hlm 197-200).

Ibadah berkurban berbeda dengan persembahan yang dilakukan oleh agama agama yang bukan islam. Daging kurban seperti sapi, kambing, domba, kerbau dan semacamnya tidak diberikan kepada Tuhan, sementara agama diluar islam mempersembahkan kurban untuk tuhan mereka.

Dalam islam tidak demikian, karena tuhan kita Allah tidak butuh daging dan tidak makan daging, sehingga daging kurban yang kita persembahkan adalah untuk manusia bukan untuk Allah, daging kurban untuk saudara saudara kita yang tidak mampu, daging kurban untuk tetangga tetangga kita yang tidak pernah makan daging yang hanya makan seadanya saja, daging kurban untuk anak anak yatim piatu, daging kurban untuk orang orang fakir miskin.

Jadi, apa yang sampai kepada Allah ? yang sampai bukan daging kurban, yang sampai adalah ketaqwaan. Firman Allah dalam Al-qur’an Al-karim Surah Al-Hajj:37
“ _Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya_ _Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik_ ”.

Ibadah qurban ini menjadi jewantah dari ibadah terapi humanis yang telah tergeser dengan hadirnya hidup individualistis. Artinya ibadah qurban di hari raya idul adha adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah agar kita lebih memperhatikan lagi tetangga tetangga kita, lebih memperhatikan fakir miskin dan anak yatim di sekeliling kita.

Budaya modernitas telah menggiring jauh dari nilai gotong royong terutama pada masyarakat kota. Hadirnya ibadah qurban adalah review kembali nilai social seperti halnya ibadah puasa yang mengajak kita merasakan lapar untuk memahami penderitaan saudara kita yang kurang beruntung.

Ibadah qurban adalah kebalikan dari ibadah puasa, jika ibadah puasa kita diajak untuk berlapar-lapar maka ibadah qurban mengajak kita untuk berkenyang-kenyang dan memberikan kekenyangan kepada saudara kita yang lain. Mempersembahkan kurban bukan untuk Tuhan, sebab jika untuk Tuhan artinya Tuhan juga butuh daging untuk kenyang dan gizi. Kurban hanyalah mediasi terapi ketaqwaan manusia dan ketaqwaan inilah yang sampai kepadaTuhan.

Mendekat kepada Tuhan bukan menyendiri di mushollah dengan suasana hening dan tempat kosong melainkan mendekat kepada Tuhan adalah mengisi perut yang kosong, mengenyangkan perut perut yang kelaparan dengan daging qurban. Seperti Nabi Musa diperintahkan mencari Tuhan ditengah-tengah orang kelaparan dan hatinya hancur. Atau rasulullah berdo’a di kebun utban bin rabi’ah, beliau memanggil Tuhan dengan sebutan “Ya Rabbu Al-mustad’afin”  Ya Allah, engkau Tuhan orang orang faqir miskin, terimalah persembahan qurban untuk hamba hambamu yang kurang mampu.

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

“USSUL” CARA ORANG MANDAR MERAYU TUHAN (Kajian budaya Habib Ahmad Fadhl al-mahdaly)

SALAH POTONGAN RAMBUT BISA MEMICU KEMATIAN (Kisah teman yang terbeban jiwa)