Hyper Realitas Penyakit Manusia Modern
POST REALITAS
PENYAKIT MASYARAKAT MODERN
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Rabu, 31 Oktober bersua dengan guru dan Kembali membincang wacana kontemporer, kali ini tentang kekosongan makna manusia manusia modern yang sudah semakin mendekat ke arah post realitas. Apa itu post realitas ? post realitas merupakan manusia yang loncat ke tahap ilusi dan melangkahi tahap realitas. Menurut yasraf amir piliang disinilah letak kematian social, konsumerisme melanda serta fantasi media membludak.
Manusia manusia modern hari ini miskin akan spritualitas dan makna. Mereka Selalu bermain pada domain ilusi tanpa merujuk kepada makna realitas. manusia modern cenderung selalu mencipta sesuatu yang berasal dari ilusinya sendiri. Satu contoh kecil taman taman yang dihiasi oleh patung dan gambar kartun, sementara kartun seperti teletabies, doraemon, upin ipin bahkan pada hiburan malam kita dapati Disney land. semuanya tidak ada realita objektifnya, melainkan murni dari ilusi manusia yang berusaha untuk diwujudkan.
Sepintas lalu memang tidak berefek buruk adanya. Namun coba kita perhatikan secara detail. Adanya wujud-wujud dari ilusi tersebut menjebak manusia, tidak akan bisa keluar dari ranah symbol. Symbol menjadi penjara bagi manusia dan pasti tidak akan sampai pada hakikat makna itu sendiri. Akibat manusia yang selalu bergelut dengan symbol, tidak mengherankan jika penilaian juga hanya dangkal terhadap sesuatu. Jika sudah demikian, konflik sangat potensi terjadi.
Generasi millenial dikendalikan oleh smart phone yang notabenenya juga adalah symbol. Aplikasi smart phone adalah dunia ilusi, game menghibur namun membuat manusia lupa akan makna realita social. Nenek kita sering berkata “Sekarang anak cucu sudah tidak memperdulikan aku, tidak menjawab salam dan sangat kurang penghormatan kepada orang tua” kenapa demikian ? itulah disebut dengan penyakit post realitas, artinya manusia sudah melampaui realitas tanpa mengenal realitas terlebih dahulu.
Konsekwensi banyak generasi yang asyik dengan dunia maya/ilusi ketimbang memperhatikan dunia realita social.Generasi milenial tidak memahami makna rindu yang sebenarnya, rindu sedikit saja sudah chat, telfon bahkan ketemuan dengan si doi. Orang tua kita dulu sangat menikmati rindu dan memahami betul makna rindu. Mereka Hanya melihat depan rumah (Balimbungan) pujaan hati saja, itu sudah merasakan keindahan Cinta yg maha dahsyat. Seperti kisah sufi ketika majnun menyuruh laila untuk pergi menjauh, sebab jauhnya laila melahirkan rindu yang keindahannya tiada tara.
Kosongnya makna sungguh mudah hoax masuk. Lain lagi jika kita bicara tentang fenomena hoax. Hoax ketika ditinjau dari post realitas, kita akan menemukan informasi yang tidak mempunyai rujukan makna realitas. Informasi yang hanya berdasarkan ilusi dan dianggap benar tanpa harus mengembalikan ke sumber realita. Sementara kita tahu betul bahwa semua informasi tidak bisa lepas dari realitas, sebab realita yang melahirkan informasi, bukan sebaliknya informasi melahirkan realita.
Walhasil, guru yang sering saya sapa ustadz hasan ini menjelaskan, mengutip Yasraf Amir Piliang yang berbicara tentang post realitas dihubungkan dengan kondisi masyarakat modern hari ini. Makna kebahagiaan kosong dari manusia modern. Masyarakat sangat mudah terjebak di wilayah symbol dan melupakan makna. Semua asyik sendiri dengan dunia ilusinya dan mematikan hubungan kemanusiaan. Symbol menjadi teman akrab sehari hari, bahkan manusia modern, tuhan pun sendiri sudah dijadikan symbol, lebih celaka lagi tuhan di turunkan keagungan-Nya menjadi symbol tulisan tauhid. Dan itu yang diperjuangkan mati matian oleh manusia simbolik.
PENYAKIT MASYARAKAT MODERN
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Rabu, 31 Oktober bersua dengan guru dan Kembali membincang wacana kontemporer, kali ini tentang kekosongan makna manusia manusia modern yang sudah semakin mendekat ke arah post realitas. Apa itu post realitas ? post realitas merupakan manusia yang loncat ke tahap ilusi dan melangkahi tahap realitas. Menurut yasraf amir piliang disinilah letak kematian social, konsumerisme melanda serta fantasi media membludak.
Manusia manusia modern hari ini miskin akan spritualitas dan makna. Mereka Selalu bermain pada domain ilusi tanpa merujuk kepada makna realitas. manusia modern cenderung selalu mencipta sesuatu yang berasal dari ilusinya sendiri. Satu contoh kecil taman taman yang dihiasi oleh patung dan gambar kartun, sementara kartun seperti teletabies, doraemon, upin ipin bahkan pada hiburan malam kita dapati Disney land. semuanya tidak ada realita objektifnya, melainkan murni dari ilusi manusia yang berusaha untuk diwujudkan.
Sepintas lalu memang tidak berefek buruk adanya. Namun coba kita perhatikan secara detail. Adanya wujud-wujud dari ilusi tersebut menjebak manusia, tidak akan bisa keluar dari ranah symbol. Symbol menjadi penjara bagi manusia dan pasti tidak akan sampai pada hakikat makna itu sendiri. Akibat manusia yang selalu bergelut dengan symbol, tidak mengherankan jika penilaian juga hanya dangkal terhadap sesuatu. Jika sudah demikian, konflik sangat potensi terjadi.
Generasi millenial dikendalikan oleh smart phone yang notabenenya juga adalah symbol. Aplikasi smart phone adalah dunia ilusi, game menghibur namun membuat manusia lupa akan makna realita social. Nenek kita sering berkata “Sekarang anak cucu sudah tidak memperdulikan aku, tidak menjawab salam dan sangat kurang penghormatan kepada orang tua” kenapa demikian ? itulah disebut dengan penyakit post realitas, artinya manusia sudah melampaui realitas tanpa mengenal realitas terlebih dahulu.
Konsekwensi banyak generasi yang asyik dengan dunia maya/ilusi ketimbang memperhatikan dunia realita social.Generasi milenial tidak memahami makna rindu yang sebenarnya, rindu sedikit saja sudah chat, telfon bahkan ketemuan dengan si doi. Orang tua kita dulu sangat menikmati rindu dan memahami betul makna rindu. Mereka Hanya melihat depan rumah (Balimbungan) pujaan hati saja, itu sudah merasakan keindahan Cinta yg maha dahsyat. Seperti kisah sufi ketika majnun menyuruh laila untuk pergi menjauh, sebab jauhnya laila melahirkan rindu yang keindahannya tiada tara.
Kosongnya makna sungguh mudah hoax masuk. Lain lagi jika kita bicara tentang fenomena hoax. Hoax ketika ditinjau dari post realitas, kita akan menemukan informasi yang tidak mempunyai rujukan makna realitas. Informasi yang hanya berdasarkan ilusi dan dianggap benar tanpa harus mengembalikan ke sumber realita. Sementara kita tahu betul bahwa semua informasi tidak bisa lepas dari realitas, sebab realita yang melahirkan informasi, bukan sebaliknya informasi melahirkan realita.
Walhasil, guru yang sering saya sapa ustadz hasan ini menjelaskan, mengutip Yasraf Amir Piliang yang berbicara tentang post realitas dihubungkan dengan kondisi masyarakat modern hari ini. Makna kebahagiaan kosong dari manusia modern. Masyarakat sangat mudah terjebak di wilayah symbol dan melupakan makna. Semua asyik sendiri dengan dunia ilusinya dan mematikan hubungan kemanusiaan. Symbol menjadi teman akrab sehari hari, bahkan manusia modern, tuhan pun sendiri sudah dijadikan symbol, lebih celaka lagi tuhan di turunkan keagungan-Nya menjadi symbol tulisan tauhid. Dan itu yang diperjuangkan mati matian oleh manusia simbolik.
Comments
Post a Comment