Speaker Masjid, Maslahat atau Mafsadat?

 (Sumber Photo: Rakyatku.com) 

Oleh: Farham Rahmat

Semoga Allah memberiku maaf, jika salah, ini murni pandanganku sebagai orang awam menanggapi. Semua hal-hal yang berkaitan dengan islam pasti indah, pasti lembut dan menenangkan, namun juga tidak melabrak prinsip Agama. Masalah speaker masjid salah satu instrumen dalam ajaran Islam, alat pengeras suara adzan, mestinya dipergunakan sebagai media dakwah yang syahdu dan indah. 

Kasus ini, bukan hanya sekarang terjadi, melainkan pernah kasus ini menimpa ibu meiliana perempuan berusia 44 tahun asal tanjung balai medan Sumatra utara. Ia divonis 1,5 tahun penjara dengan posita penodaan agama pasal 156a UU no 1 tahun 1965 oleh pengadilan negri medan rabu 22 Agustus 2018. 

Pada mulanya bukan hanya ibu meiliana yang berlatarbelakang non muslim merasa terganggu, ada banyak muslim juga merasa terganggu dengan alasan kesehatan. Pihak pengadilan pun mengakui bahwa putusan tidak bersifat objektif, ada banyak tekanan warga memberondong rasio hakim dalam menetukan petitum.

Terkait dengan speaker masjid yang pelik ini, kementrian agama pusat melalui direktoral jenderal bimas islam, masih Prof. Muhammadiyah amin menjabat. Beliau mengeluarkan aturan penggunaan pengeras suara masjid. Saya tidak akan menyebutkan peraturan Ditjen Bimas Islam itu satu persatu pada tulisan singkat ini. 

Melihat kasus ibu meiliana divonis hanya karena kemerdekaannya merasa terganggu dengan suara speaker masjid, saya teringat dengan sebuah kisah yang menggugah dari Mevlana Jalaluddin Rumi dalam bukunya Matsnawi, Daftar-e panjam 3390.

Al-kisah Ada seorang muazin yang bersuara sangat buruk, katakanlah namanya Kaco. Ia azan ditengah agama yang beragam. Teman semuslimnya mempengaruhi Kaco untuk tidak mengumandangkan adzan lagi. Karena dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan warga lainnya. 

Jika dilanjutkan, bisa jadi adzan itu akan menimbulkan kerusuhan social, sebab ada beberapa warga yang merasa terganggu. Sang muadzin dengan lantang menolak bujukan saudara muslimnya. Dia berkata dan marah: 

“saya tidak akan mundur untuk menegakkan syariat islam, apakah dengan hal sepele sunnah Nabi saya abaikan ?” kaum muslimin saat ini sudah kehilangan ghiroh imannya. Kaum muslimin kini menjadi ummat yang penakut, dan selalu mengalah demi kepentingan non muslim”.

Dengan mindset seperti itu, dia pun mengumandangkan adzan lebih semangat lagi dari sebelumnya, tentu dengan suara yang lebih buruk dari sebelumnya, tiba tiba seorang ibu yang beragama non muslim datang mencari sang muadzin. Dia membawa jubah yang bagus, makanan serta perlengkapan sholat sebagai hadiah untuk muadzin. Spontan teman teman muslimnya terperanjat heran seakan tidak percaya. 

Ibu itu berkata “Dimana orang yang mengumandangkan adzan tadi, saya ingin memberikannya hadiah sebagai bentuk terima kasihku” teman muslimnya lebih terheran heran lagi” kok bisa ibu ? kata salah satu teman se muslim.

“Suara adzan itu masuk kedalam gereja kami, Sejujurnya, saya mempunyai seorang anak gadis yang sangat mengingingkan menikah dengan muslim sejati, ia tidak mau menikah kecuali hanya kepada Muslim sejati. Saya takut dengan gelora keimanannya, agama nenek moyang kami ditinggalkan. 

Satu hari satu malam, hati gunda gulana tidak karuan, tidur tak nyenyak memikirkan persoalan ini” kata ibu. Dan alangkah bahagianya hatiku saat anakku mendengar lantunan adzan itu. Ia merasa aneh dan terganggu. Anak saya bertanya kepada kakaknya “Itu suara apa ya kak ? seumur hidup saya belum pernah mendengar suara aneh seperti itu cukup mengganggu” 

Kakaknya berkata: “Itu suara adzan di masjid” "Bohong, itu bukan suara adzan" Kata adik membantah kakaknya, dia belum percaya dan datang langsung ke masjid untuk memastikan keyakinannya dan akhirnya bertemu dengan Si Kaco sang muadzin.

Menjawablah muadzin seorang diri “Iya betul, itu memang suara adzan yang saya kumandankan” sesaat setelah itu wajah gadis tersebut memerah dan marah seraya mengokohkan hati untuk tidak menikah sama sekali dengan laki laki muslim manapun. 

Betapa senangnya hatiku dan saat itu saya sudah tidur dengan nyenyak, anak saya tidak jadi masuk islam. Ucapan terima kasihku kepadamu nak... Wahai sang muadzin terimalah hadiahku ini. Kisah ini tidak diterangkan kapan kejadian dan apakah real atau tidak, namun Mevlana Rumi memberikan nilai pelajaran dalam ksiah ini.

Rumi berkata “Iman Kalian Hanyalah Kemunafikan Dan Kepalsuan” persis seperti panggilan sholat itu. Imanmu justru menjauhkkan orang dari jalan Tuhan. Rumi juga membandingkan antara sang muadzin dan Sufi Bayazid Basthami, keduanya berusaha menegakkan syariat islam. Sang muadzin memperhatikan focus pada aspek lahiriah agama untuk mengamalkannya.

Mengumandangkan adzan bertujuan untuk memanggil sesuai dengan syariat namun tidak memenuhi tujuan syariat. sementara bayazid busthami memperhatikan subtansi, nilai dan tujuan syariat. seperti sholat tidak berarti jika tidak mampu mencegah kemungkaran dan menyeru pada kebaikan.

Sehingga maksud rumi menginginkan kita berislam untuk menampilkan wajah islam yang merdu bukan keras dan mengganggu ketentraman manusia lainnya. Sukakah kalian tinggal di Negara yang mayoritas islam namun penuh dengan kebencian ? atau sukakah kalian tinggal di Negara islam yang membunuh kaum laki lakinya yang berjanggut dan melarang perempuan bekerja ? 

Sukakah kalian dengan Negara yang bersimbol islam namun membiarkan kekayaan diraup oleh segelintir orang saja ? artinya setujukah kalian kepada sang muadzin yang meneriakkan adzan yang jelek ditengah tengah kaum agama yang heterogen ?  Mari kita berdakwah untuk agama yang kita cintai dengan merdu penuh dengan keindahan dan ketentraman.

Al-Ghazali dalam Ihya mengutip Hadits, Rasulullah Bersabda: "Kelemahlembutan tidaklah ada pada sesuatu, kecuali menghiasinya dan tidak hilang dari sesuatu, kecuali merusaknya. Siapa yang tidak memiliki kelembutan maka tidak mendapat kebaikan" (HR Muslim).  

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Wallahu A’lam Bishsawab

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

“USSUL” CARA ORANG MANDAR MERAYU TUHAN (Kajian budaya Habib Ahmad Fadhl al-mahdaly)

SALAH POTONGAN RAMBUT BISA MEMICU KEMATIAN (Kisah teman yang terbeban jiwa)