Manuskrip Nusantara Islam
KITAB TURATH IDENTITAS KEILMIAHAN ISLAM DI NUSANTARA
Oleh: Farham Rahmat
Santri Milenial
Sekolah tinggi agama islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah menghadirkan salah satu alumninya sendiri yaitu Prof. DR. Harapandi Dahri. M. Ag pensyarah di kolej university perguruan ugama (KUPU) Brunei Darussalam dalam seminar internasional trend pemikiran islam di asia tenggara, Jum’at 28 Desember 2018 di Aula kampus jl kayumanis barat matraman jakarta timur.
Mengutip surah Al-Fathir ayat 32 bahwa makna auratsna al-kitab merujuk pada warisan ulama dalam bentuk Turath (manuskrip) dan yang dimaksud Turath adalah karya klasik ulama yang erat kaitannya dengat kitab kuning. Turath adalah langkah awal wadah pembaharuan yang mengubah tatanan social menuju kemodernan, sebab Turath adalah identitas bangsa.
Harapandi Dahri melanjutkan bahwa Kitab Turath memiliki tiga kekuatan rujukan, yaitu Kitab Turath al-Qur’ani, Kitab Turath al-Haditsi dan Kitab Turath al-Fikrati. Turath sering berwujud Kitab kuning/gundul yang memiliki cirri-ciri Kertas dan cetakan tidak menarik, tidak menggunakan harakat, tidak menuliskan nama pengarang di depan sampul, selalu dimulai dengan basmalah & hamdalah, dalam satu bundel terdapat beberapa naskah, Pengarang tetap dalam kesucian ketika menulis karyanya dan Salat sunnah sebelum menulis.
Jika dibandingkan dengan karya tulis hari ini, memiliki cirri yang jauh berbeda seperti Nama penulis sudah jelas tertera di depan sampul buku, kertas luxe sebagian berwarna, hard cover, penerbit dan tempat terbit jelas, nomor halaman jelas, dalam satu bundel kitab hanya terdapat satu naskah. Sementara turath mengandung beberapa naskah pembahasan. Seperti Aqidah, Feqh, Akhlak/Tasawwuf, Al-Qur’an juga Al-Hadits. Selain itu Kitab Turath ditulis ulama dengan bahasa Arab, Kitab ditulis dari kitab asal (Arab) dalam bahasa Melayu aksara Jawi, juga ditulis independen oleh ulama Melayu dengan aksara Jawi.
Kekayaan khazanah Islam dalam bentuk kitab Turath memiliki makna penting dan strategis terutama sekali dalam tiga proses dinamika keagamaan yakni pembentukan (formulasi), pemeliharaan (konservasi), serta perkembangan (development) tradisi keberagamaan yang unik dan khas di dunia Melayu. Fasilitator yakni para da’i awal menjadikan kitab Turath sebagai rujukan utama (Islam Jawa, Sumatera) dipengaruhi oleh kitab-kitab karya ulama Timur Tengah. Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abd al-Rauf al-Singkili, Yusuf al-Makassari al-Bantani, Abd al-Samad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan lainnya yang kesemuanya telah hadir dengan berbagai karya kitab-kitab Turath.
Mediator, yang ditransmisikan dari pusat-pusat keislaman mancanegara maupun yang diproduksi secara genuine sebagai hasil karya para tokoh Islam Melayu maka pada puncak tahapan ini dapat dikatakan telah “berhasil disepakati” suatu formulasi keberislaman alam Melayu yang secara ideologis beraliran Ahlus Sunnah Waljama’ah dengan pemahaman dan praktek fiqh yang mengakomodir keempat mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Syafi’iyah.
Konservator yaitu selain sebagai pedoman tata cara keberagamaan, Kitab Turath difungsikan juga oleh berbagai kalangan umat Islam Melayu, terutama sekali kalangan pesantren, sebagai referensi nilai universal dalam mensikapi segala tantangan kehidupan. Ketika Kitab Turath digunakan secara permanen, dari generasi ke generasi, sebagai sumber bacaan utama bagi masyarakat pesantren yang cukup luas, maka sebuah proses pemeliharaan tradisi yang unik itu tengah berlangsung.
Harapandi dahri menutup persentase seminar dengan berpesan kepada mahasiswa STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah juga kepada santri ma’had aly bahwa kitab warisan ulama nusantara harus kita kajia kembali, dan jadikan sebagai standar kelulusan pada setiap lembaga pendidikan. Hari ini Brunei Darussalam mempelajari naskah jawi mulai dari anak kecil, sehingga kitab-kitab Turath karya asli ulama nusantara Indonesia mereka manfaatkan sebaik-baiknya, mempelajari kitab Turath pada setiap jenjang pendidikan. Sementara putra nusantara sendiri mengabaikan itu.
Oleh: Farham Rahmat
Santri Milenial
Sekolah tinggi agama islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah menghadirkan salah satu alumninya sendiri yaitu Prof. DR. Harapandi Dahri. M. Ag pensyarah di kolej university perguruan ugama (KUPU) Brunei Darussalam dalam seminar internasional trend pemikiran islam di asia tenggara, Jum’at 28 Desember 2018 di Aula kampus jl kayumanis barat matraman jakarta timur.
Mengutip surah Al-Fathir ayat 32 bahwa makna auratsna al-kitab merujuk pada warisan ulama dalam bentuk Turath (manuskrip) dan yang dimaksud Turath adalah karya klasik ulama yang erat kaitannya dengat kitab kuning. Turath adalah langkah awal wadah pembaharuan yang mengubah tatanan social menuju kemodernan, sebab Turath adalah identitas bangsa.
Harapandi Dahri melanjutkan bahwa Kitab Turath memiliki tiga kekuatan rujukan, yaitu Kitab Turath al-Qur’ani, Kitab Turath al-Haditsi dan Kitab Turath al-Fikrati. Turath sering berwujud Kitab kuning/gundul yang memiliki cirri-ciri Kertas dan cetakan tidak menarik, tidak menggunakan harakat, tidak menuliskan nama pengarang di depan sampul, selalu dimulai dengan basmalah & hamdalah, dalam satu bundel terdapat beberapa naskah, Pengarang tetap dalam kesucian ketika menulis karyanya dan Salat sunnah sebelum menulis.
Jika dibandingkan dengan karya tulis hari ini, memiliki cirri yang jauh berbeda seperti Nama penulis sudah jelas tertera di depan sampul buku, kertas luxe sebagian berwarna, hard cover, penerbit dan tempat terbit jelas, nomor halaman jelas, dalam satu bundel kitab hanya terdapat satu naskah. Sementara turath mengandung beberapa naskah pembahasan. Seperti Aqidah, Feqh, Akhlak/Tasawwuf, Al-Qur’an juga Al-Hadits. Selain itu Kitab Turath ditulis ulama dengan bahasa Arab, Kitab ditulis dari kitab asal (Arab) dalam bahasa Melayu aksara Jawi, juga ditulis independen oleh ulama Melayu dengan aksara Jawi.
Kekayaan khazanah Islam dalam bentuk kitab Turath memiliki makna penting dan strategis terutama sekali dalam tiga proses dinamika keagamaan yakni pembentukan (formulasi), pemeliharaan (konservasi), serta perkembangan (development) tradisi keberagamaan yang unik dan khas di dunia Melayu. Fasilitator yakni para da’i awal menjadikan kitab Turath sebagai rujukan utama (Islam Jawa, Sumatera) dipengaruhi oleh kitab-kitab karya ulama Timur Tengah. Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abd al-Rauf al-Singkili, Yusuf al-Makassari al-Bantani, Abd al-Samad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan lainnya yang kesemuanya telah hadir dengan berbagai karya kitab-kitab Turath.
Mediator, yang ditransmisikan dari pusat-pusat keislaman mancanegara maupun yang diproduksi secara genuine sebagai hasil karya para tokoh Islam Melayu maka pada puncak tahapan ini dapat dikatakan telah “berhasil disepakati” suatu formulasi keberislaman alam Melayu yang secara ideologis beraliran Ahlus Sunnah Waljama’ah dengan pemahaman dan praktek fiqh yang mengakomodir keempat mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Hanbaliyah, dan Syafi’iyah.
Konservator yaitu selain sebagai pedoman tata cara keberagamaan, Kitab Turath difungsikan juga oleh berbagai kalangan umat Islam Melayu, terutama sekali kalangan pesantren, sebagai referensi nilai universal dalam mensikapi segala tantangan kehidupan. Ketika Kitab Turath digunakan secara permanen, dari generasi ke generasi, sebagai sumber bacaan utama bagi masyarakat pesantren yang cukup luas, maka sebuah proses pemeliharaan tradisi yang unik itu tengah berlangsung.
Harapandi dahri menutup persentase seminar dengan berpesan kepada mahasiswa STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah juga kepada santri ma’had aly bahwa kitab warisan ulama nusantara harus kita kajia kembali, dan jadikan sebagai standar kelulusan pada setiap lembaga pendidikan. Hari ini Brunei Darussalam mempelajari naskah jawi mulai dari anak kecil, sehingga kitab-kitab Turath karya asli ulama nusantara Indonesia mereka manfaatkan sebaik-baiknya, mempelajari kitab Turath pada setiap jenjang pendidikan. Sementara putra nusantara sendiri mengabaikan itu.
Comments
Post a Comment