Naskah Klasik Nusantara Masihkah Relevan Hari ini ?
KRITIK ATAS NASKAH NUSANTARA
MASIHKAH RELEVAN UNTUK ZAMAN NOW ?
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Pernaskahan Nusantara dalam isu agama daan kebudayaan menjaadi titik sentral diskusi rabu 19 September 2018 di auditorium perpusatkaan nasional. Prof mudji sutrisno sebagai narasumber pertama memaparkan dengan gamblang GANDAWYUHA sebagai symbol toleransi dan pluralism. Para pencinta pengetahuan mengembara untuk mencari kebenaran guru satu ke guru yang lain, santri dikenal sebagai pelajar agama klasik mempunyai banyak guru dan kiai, begitupun dengan penziarahan yang dilakukan oleh agama katolik, protestan atau semua pelana penghayat, pelaku kebathinan di nusantara. Berbeda faham kagamaan namun tujuannya hanya satu, yaitu mencintai pengetahuan dan memperoleh kebenaran.
Candi Borobudur menceritakan agama agama, atau kepercayaan manapun bergerak mencari kebenaran The Ultimate Truth dalam bentuk relief. 460 buah relief GANDAWYUHA dipahat pada dinding lorong kedua, tiga dan empat candi Borobudur, namun itu tidak mendapat perhatian dikalangan intelektual. Padahala pahatan pahatan itu adalah kunci untuk memahami dimensi keutuhan Borobudur. Didalam terdapat relief sudhana dalam menuntut ilmu pada guru guru spiritual 25% guru makhluk halus 25% termasuk Mahadewa dan 50% lainnya adalah kalangan intelektual, politikus, brahmana, ksatria dan perumahtangga.
Lalu apa itu GANDWYUHA ? ia merupakan kisah esoteris agama budha mahayan tentang anak yang bernama SUDHANA yang berkelana tanpa kenal lelah untuk mencari pengetahuan dan kebijaksanaan. Dia menemukan beberapa guru spiritual disebut MITREKA SATATA. Meskipun SUDHANA adalah kisah dari sutra besar agama BUDHA MAHAYANA dan SUTRA AVATASAMKA. Agama budah memilki beberapa sutra diantaranya: Sutra Prajna Paramita, Lankavatara, Surangama, Vimalakirti, Pundarika, maha Parinirvana dan masih banyak lagi. Namun Borobudur hanya menceritakan sudhana dan perjalanan spritualnya. Gadwyuha masih menyisakan misteri pada relief Borobudur namun pesan moral tetap menggema kepada pemeluk agama agama yang haus akan kebenaran.
Narasumber kedua adalah Prof. Dr. Edwin P. Wieringa dari Universitas Köln, Jerman. Berupaya untuk mempetemukan logika kritis dan kebudayaan pernaskahan nusantara. Prof edwin telah melahap habis Carita Bangka, Babad Tanah Jawi, Babad Bangun Tapa, Asthabrata, Serat Yusuf, Serat Jiljalaha sering disebut Satan‘s Sermon yaitu Khotbah Setan dan Mushaf Jawa (Solo) bisa ditemukan dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa Jerman, Belanda dan Indonesia.
Bukan berlandaskan kepada pernaskahan nusantara namun berlandaskan kepada nilai nilai luhur. Prof edwin mengaskan bahwa tidak semua pernaskahan nusantara itu baik, ada yang menyimpang dari nilai luhur dari para leluhur. Lalu, bagaimana dengan tema bagaimana menemukan kontekstualisasi Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara sebagai Acuan Kehidupan Beragama di Indonesia? Apa itu nilai-nilai luhur? Apa hubungan dengan naskah Nusantara? Apakah isi naskah kuno masih relevan sekarang?
Dia menyebutkan bahwa sastra lama adalah tafsir murahan dengan analisis berikut. Kata Nibelungenlied perlu hati-hati dengan prasangka dan penilaian salah. Pesan untuk generasi zaman now, hati hati dengan kebangkitan populisme sayap kanan. Sebab itu akan melahirkan tafsir murahan. Jika demikian lebih baik nonton Film James Bond, Avengers, justice league atau superhero superhero lainnya pesan moralnya terasa, yaitu kita harus menyelamatkan dunia dari tangan penjahat. Itulah mengapa anak anak nusantara sendiri tidak berminat tahu pahlawan nusantara, isinya hanya pesan moral saja dan pesan pesannya sudah tidak kekinian. Artinya pesan moral hanya dalam bentuk naskah kuno, lontar, atau dalam bentuk pahatan. Tidak menarik, dan inilah tugas anak anak nusantara memperkenalkan warisan nusantara sesuai dengan zaman now.
Lalu bagaimana dengan agama ? Prof Edwin menjelaskan agama hari ini sudah tidak hebat lagi. GOD IS NOT GREAT dalam karya crishtoper hitcens, atau GOD DELUSION karya Richard Dawkins. Semua menjelaskan kematian agama, bahkan di London beberapa busway tertulis There’s probably no god. Now stop worrying and enjoy your life. Nikmati kehidupan, jangan pedulikan lagi dengan agama. Kenapa demikian karena nilai nilai luhur adalah prioritas, untuk apa beragama dan merasa benar kalau tidak mengindahkan nilai nilai luhur dan moral ? itulah mengapa naskah nusantara tidak boleh lepas dari nilai nilai Luhur.
Penyakit yang bisa lahir adalah Overexpectation (Harapan berlebih-lebihan). Pada akhirnya akan diuji adakah kaitan antara Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara ?. Apa istimewanya dengan naskah Nusantara? Seolah-olah naskah nusantara ini merupakan benda pusaka peninggalan nenek moyang penuh kearifan dan rahasia yang belum diketahui umum. Atau Seolah-olah naskah adalah kitab suci yg turun ke dunia. Apakah Solusi untuk problem kekinian ada dalam naskah itu ?
Asumsi bahwa naskah (tulisan tangan sebelum tahun 1900) mengandung kearifan abadi yg masih dapat diterapkan sekarang sesuai dengan karakter dan nilai nilai luhur kenusantaraan. Seperti Keromantisan yang zaman pra-modern ada dan bersahaja. Lalu kekerasan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, saling menghujat satu sama lain dan masih banyak perilaku menyimpan lainnya itu terjadi sekarang, sifat gotong royong, ramah, sopan santun, keluguan, cinta dan hormat kepada yang tua telah hilang pada anak anak nusantara. Sehingga pujangga menciptakan mahakarya (Ranggawarsita) cerita rakyat penuh kearifan harus dikontekstualisasikan untuk zaman now.
Kemudian istilah adiluhung artinya bermutu tinggi sudah menghilang dari pola watak dan perilaku. Contoh sederhana Adiluhung ada dalam kitab klasik nusantara ASTHABRATA. Isi kitabnya menjelaskan Ajaran untuk pemimpin, Misalnya: AIR TURUN DARI BUKIT, artinya bahwa pemimpin harus mengayomi rakyatnya, lalu pilosopi air itu adalah Uang, dan uang harus mengalir kebawah jangan keatas terus. Raja tdk boleh menumpuk harta kekayaan, harus dikeluarkan demi rakyat, ini adalah teori ekonomi yang sangat sederhana, jauh sebelum Adam Smith berkoar dengan konsep kapitalnya. Walalupun Asal-usulnya berakar dari agama dan budaya Hindu, Tetapi ajaran ASTHABRATA bisa diterima semua suku semua bangsa, semua agama dan semua manusia.
Jadi tolak ukur penerimaan atau penolakan naskah klasik nusantara untuk zaman now terletak pada rasio logis atau tidak logis, sesuai cinta atau tidak sesuai dengan cinta kebijaksanaan dan kebaikan. Kebijakan ASTHABRATA bisa diterima secara umum dan tidak hanya oleh ummat Hindu, sebab falsafah kepemimpinan, nilai luhur dan pesan moralnya masuk akal, dan diterima oleh naluri manusia.
MASIHKAH RELEVAN UNTUK ZAMAN NOW ?
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Pernaskahan Nusantara dalam isu agama daan kebudayaan menjaadi titik sentral diskusi rabu 19 September 2018 di auditorium perpusatkaan nasional. Prof mudji sutrisno sebagai narasumber pertama memaparkan dengan gamblang GANDAWYUHA sebagai symbol toleransi dan pluralism. Para pencinta pengetahuan mengembara untuk mencari kebenaran guru satu ke guru yang lain, santri dikenal sebagai pelajar agama klasik mempunyai banyak guru dan kiai, begitupun dengan penziarahan yang dilakukan oleh agama katolik, protestan atau semua pelana penghayat, pelaku kebathinan di nusantara. Berbeda faham kagamaan namun tujuannya hanya satu, yaitu mencintai pengetahuan dan memperoleh kebenaran.
Candi Borobudur menceritakan agama agama, atau kepercayaan manapun bergerak mencari kebenaran The Ultimate Truth dalam bentuk relief. 460 buah relief GANDAWYUHA dipahat pada dinding lorong kedua, tiga dan empat candi Borobudur, namun itu tidak mendapat perhatian dikalangan intelektual. Padahala pahatan pahatan itu adalah kunci untuk memahami dimensi keutuhan Borobudur. Didalam terdapat relief sudhana dalam menuntut ilmu pada guru guru spiritual 25% guru makhluk halus 25% termasuk Mahadewa dan 50% lainnya adalah kalangan intelektual, politikus, brahmana, ksatria dan perumahtangga.
Lalu apa itu GANDWYUHA ? ia merupakan kisah esoteris agama budha mahayan tentang anak yang bernama SUDHANA yang berkelana tanpa kenal lelah untuk mencari pengetahuan dan kebijaksanaan. Dia menemukan beberapa guru spiritual disebut MITREKA SATATA. Meskipun SUDHANA adalah kisah dari sutra besar agama BUDHA MAHAYANA dan SUTRA AVATASAMKA. Agama budah memilki beberapa sutra diantaranya: Sutra Prajna Paramita, Lankavatara, Surangama, Vimalakirti, Pundarika, maha Parinirvana dan masih banyak lagi. Namun Borobudur hanya menceritakan sudhana dan perjalanan spritualnya. Gadwyuha masih menyisakan misteri pada relief Borobudur namun pesan moral tetap menggema kepada pemeluk agama agama yang haus akan kebenaran.
Narasumber kedua adalah Prof. Dr. Edwin P. Wieringa dari Universitas Köln, Jerman. Berupaya untuk mempetemukan logika kritis dan kebudayaan pernaskahan nusantara. Prof edwin telah melahap habis Carita Bangka, Babad Tanah Jawi, Babad Bangun Tapa, Asthabrata, Serat Yusuf, Serat Jiljalaha sering disebut Satan‘s Sermon yaitu Khotbah Setan dan Mushaf Jawa (Solo) bisa ditemukan dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa Jerman, Belanda dan Indonesia.
Bukan berlandaskan kepada pernaskahan nusantara namun berlandaskan kepada nilai nilai luhur. Prof edwin mengaskan bahwa tidak semua pernaskahan nusantara itu baik, ada yang menyimpang dari nilai luhur dari para leluhur. Lalu, bagaimana dengan tema bagaimana menemukan kontekstualisasi Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara sebagai Acuan Kehidupan Beragama di Indonesia? Apa itu nilai-nilai luhur? Apa hubungan dengan naskah Nusantara? Apakah isi naskah kuno masih relevan sekarang?
Dia menyebutkan bahwa sastra lama adalah tafsir murahan dengan analisis berikut. Kata Nibelungenlied perlu hati-hati dengan prasangka dan penilaian salah. Pesan untuk generasi zaman now, hati hati dengan kebangkitan populisme sayap kanan. Sebab itu akan melahirkan tafsir murahan. Jika demikian lebih baik nonton Film James Bond, Avengers, justice league atau superhero superhero lainnya pesan moralnya terasa, yaitu kita harus menyelamatkan dunia dari tangan penjahat. Itulah mengapa anak anak nusantara sendiri tidak berminat tahu pahlawan nusantara, isinya hanya pesan moral saja dan pesan pesannya sudah tidak kekinian. Artinya pesan moral hanya dalam bentuk naskah kuno, lontar, atau dalam bentuk pahatan. Tidak menarik, dan inilah tugas anak anak nusantara memperkenalkan warisan nusantara sesuai dengan zaman now.
Lalu bagaimana dengan agama ? Prof Edwin menjelaskan agama hari ini sudah tidak hebat lagi. GOD IS NOT GREAT dalam karya crishtoper hitcens, atau GOD DELUSION karya Richard Dawkins. Semua menjelaskan kematian agama, bahkan di London beberapa busway tertulis There’s probably no god. Now stop worrying and enjoy your life. Nikmati kehidupan, jangan pedulikan lagi dengan agama. Kenapa demikian karena nilai nilai luhur adalah prioritas, untuk apa beragama dan merasa benar kalau tidak mengindahkan nilai nilai luhur dan moral ? itulah mengapa naskah nusantara tidak boleh lepas dari nilai nilai Luhur.
Penyakit yang bisa lahir adalah Overexpectation (Harapan berlebih-lebihan). Pada akhirnya akan diuji adakah kaitan antara Nilai-nilai Luhur Keagamaan dalam Naskah Nusantara ?. Apa istimewanya dengan naskah Nusantara? Seolah-olah naskah nusantara ini merupakan benda pusaka peninggalan nenek moyang penuh kearifan dan rahasia yang belum diketahui umum. Atau Seolah-olah naskah adalah kitab suci yg turun ke dunia. Apakah Solusi untuk problem kekinian ada dalam naskah itu ?
Asumsi bahwa naskah (tulisan tangan sebelum tahun 1900) mengandung kearifan abadi yg masih dapat diterapkan sekarang sesuai dengan karakter dan nilai nilai luhur kenusantaraan. Seperti Keromantisan yang zaman pra-modern ada dan bersahaja. Lalu kekerasan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, saling menghujat satu sama lain dan masih banyak perilaku menyimpan lainnya itu terjadi sekarang, sifat gotong royong, ramah, sopan santun, keluguan, cinta dan hormat kepada yang tua telah hilang pada anak anak nusantara. Sehingga pujangga menciptakan mahakarya (Ranggawarsita) cerita rakyat penuh kearifan harus dikontekstualisasikan untuk zaman now.
Kemudian istilah adiluhung artinya bermutu tinggi sudah menghilang dari pola watak dan perilaku. Contoh sederhana Adiluhung ada dalam kitab klasik nusantara ASTHABRATA. Isi kitabnya menjelaskan Ajaran untuk pemimpin, Misalnya: AIR TURUN DARI BUKIT, artinya bahwa pemimpin harus mengayomi rakyatnya, lalu pilosopi air itu adalah Uang, dan uang harus mengalir kebawah jangan keatas terus. Raja tdk boleh menumpuk harta kekayaan, harus dikeluarkan demi rakyat, ini adalah teori ekonomi yang sangat sederhana, jauh sebelum Adam Smith berkoar dengan konsep kapitalnya. Walalupun Asal-usulnya berakar dari agama dan budaya Hindu, Tetapi ajaran ASTHABRATA bisa diterima semua suku semua bangsa, semua agama dan semua manusia.
Jadi tolak ukur penerimaan atau penolakan naskah klasik nusantara untuk zaman now terletak pada rasio logis atau tidak logis, sesuai cinta atau tidak sesuai dengan cinta kebijaksanaan dan kebaikan. Kebijakan ASTHABRATA bisa diterima secara umum dan tidak hanya oleh ummat Hindu, sebab falsafah kepemimpinan, nilai luhur dan pesan moralnya masuk akal, dan diterima oleh naluri manusia.
Comments
Post a Comment