Nilai kemandaran untuk Sulawesi barat
NILAI KE-MANDAR-AN
AKTUALISASI PEMBANGUNAN SULAWESI BARAT
(Penuturan Prof. Ahmad M. Sewang)
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Pada acara musyawarah besar BPP KKMSB yang ke-V dengan tema “Mikke’de Diatonganan, Meppalingutti Diassamaturuan, Missulekka Diammesang” digelar di hotel grand boutiq jakarta pusat 8 desember 2018. Puang Salim. S Mengga selaku ketua KKMSB berorasi Tentang nilai ke-Mandar-an yang sarat dengan integritas yang tinggi. Sambutan selanjutnya pada acara inti KKMSB dibuka secara resmi oleh bapak Gubernur Sulawesi barat H. Andi Ali Baal Masdar dengan gaya orasinya sendiri yang memukau.
Kegiatan kali ini, berhasil mendatangkan ayahanda kita Prof. Ahmad M. Sewang. Dan beberapa tokoh mandar lainnya, seperti Muh. Asri anas (anggota DPD MPR RI Sulbar), DR. Muhammad zain (Direktur Puslitbang LKKMO badan litbang dan diklat Kementrian Agama RI), Rudi Alfonso, Hj. Nurjannah hammadiyah, Safruddin kino, Natsir Rahmat dan Rukman Karumpa, Serta seratus peserta undangan, empat puluh lebih mahasiswa, dan masyarakat berkisar empat puluh an juga ikut meramaikan.
Namun, saya tidak akan berbicara mengenai keseruan acara mubes dan proses berjalannya sampai pada pemilihan ketua baru KKMSB. Saya lebih tertarik melihat dari sisi nilai ke-mandar-an yang disampaikan oleh ayahanda Prof. Ahmad Sewang waktu itu. Beliau memulai dengan bahasa “Sialei Gau’ Pura Loa, Pe’gurui Tongangi Gau Mamanya, Na Mupijarammingi Disese Apianna Gau Manini Makkeguna Di Alawemu Anna Lita’” Tengoklah perbuatan yang telah dilakukan masa lalu, pelajari dengan kesungguhan perbuatan masa kini, agar ia menjadi cermin dan ia berguna untuk dirimu dan untuk tanah air.
Pesan ini hendak memberi pesan bahwa Nilai kemandaran dan agama hari ini sangat berkaitan dengan sejarah masa lalu, sayangnya, budaya mandar yang digarap masih 5% selebihnya 95% masih hutan belantara yang belum terbabat. Serpihan sejarah itu, masih bisa kita lihat pada catatan W.J. Layds pada masa kerajaan balanipa, dengan raja IV yang bernama Daetta alias Kanna I Pattang memerintah pada abad XVII.
Dikatakan bahwa saat itulah agama dan mandar tidak terpisahkan, itu bisa dilihat dari kalimat kuno mandar “Naiyya ada’, syara’ nala sulo. Naiyya syara’, ada’ nala gassing. Matei ada’ mua’ nandiang syara’, matei syara’ mua’ nandian ada’” Adapun adat menjadikan syariat sebagai pedoman. Sementara kekuatan syariat terletak pada adat. Adat tidak akan bermakna tanpa syariat, syariat tidak bermakna tanpa ditunjang adat.
Selain berbicara tentang agama, kita juga bisa menemukan korelasi antara mandar dan pendidikan, seperti Daetta pernah berkata: “Naiyya mukim, tanna indoi allo, tanna imbui iri’, tandi papambawai, tandi pappattewei. Malolli dai di timor tammangapa-ngapa, malolli naun di wara tammangapa-ngapa”. Para santri atau mahasiswa yang belajar di pondok, dibebaskan semua dari kewajiban Negara, seperti pajak. Agar mereka bisa berkonsentrasi kepada studi pendidikan mereka.
Abad ke-20 majene sebagai ibu kota afdeling mandar, disana didirikan sekolah tsanawiah, pengajarnya didatangkan dari Sumatra barat, bernama H. Kamaluddin, darwis zakariah dan darwis amini (alumni mesir). Sedangkan dari pulau jawa bernama raden sunarmo, masaji dan suaji. Sekolah itu mengalami perkembangan pesat sehingga beberapa daerah berdatangan untuk belajar, seperti Maluku, nusa tenggara barat. Bagian Sulawesi dari daerah pinrang, palopo, bulukumba, bantaeng, Makassar, pasangkayu, toil toil, bahkan Halmahera, bima dan nusa tenggara barat pun ikut belajar.
Pendidikan pertama ini berada di majene pada tahun 1933 dan mulai diajarkan spirit nasionalisme dan patriotism mempertahankan kemerdekaan RI. Dari sinilah cikal bakal pembantaian korban 40 ribu jiwa di Sulawesi selatan dan barat oleh westerling. Abd. Jalil adalah salah satu korbannya yang merupakan alumni sekolah tsanawiah. Sebagian mereka yang menjadi korban ada yang memegang peranan penting setelah kemerdekaan seperti Suaeb Pasang (mantan bupati takalar), Abd Latief (mantan ketua DPRD Sulawesi selatan), Abd. Razak (mantan ketua MUI polewali mamasa) dan Hamusta Ibrahim (mantan kepala kantor kementrian agama RI majene).
Perkembangan pendidikan di sulbar hari ini sudah memiliki beberapa perguruan tinggi sebagai upaya pencerdasan masyarakat mandar. Pendidikan sangat relative lambat, sebab sebelumnya masih diperintah battalion 7.10. setelah itu barulah anak anak mandar menempuh pendidikan kuliah di Makassar. Tahun 1962 anak mandar yang menyandang sarja pertama kali adalah Prof. Baharuddin Lopa, S.H. Kemudian beliau menjabat bupati pertama majene, bupati termuda dari seluruh Indonesia baru berumur 25 tahun. Pendidikan sarat dengan makna literasi, sehingga Prof. Ahmad sewang juga berbicara tentang literasi dalam budaya mandar. Kemudian etos kerja, transformasi faham takdir, prasyarat menjadi pemimpin dalam mandar, semangat profesionalism dalam mandar, terakhir beliau memaparkan relevansi budaya mandar dengan zaman now dengan kata “Provinsi Malebbi’”. Insya Allah tema-tema pembahasan itu akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.
Wallahu a’lam bis showab…
AKTUALISASI PEMBANGUNAN SULAWESI BARAT
(Penuturan Prof. Ahmad M. Sewang)
Oleh: Farham Rahmat
Santri Millenial
Pada acara musyawarah besar BPP KKMSB yang ke-V dengan tema “Mikke’de Diatonganan, Meppalingutti Diassamaturuan, Missulekka Diammesang” digelar di hotel grand boutiq jakarta pusat 8 desember 2018. Puang Salim. S Mengga selaku ketua KKMSB berorasi Tentang nilai ke-Mandar-an yang sarat dengan integritas yang tinggi. Sambutan selanjutnya pada acara inti KKMSB dibuka secara resmi oleh bapak Gubernur Sulawesi barat H. Andi Ali Baal Masdar dengan gaya orasinya sendiri yang memukau.
Kegiatan kali ini, berhasil mendatangkan ayahanda kita Prof. Ahmad M. Sewang. Dan beberapa tokoh mandar lainnya, seperti Muh. Asri anas (anggota DPD MPR RI Sulbar), DR. Muhammad zain (Direktur Puslitbang LKKMO badan litbang dan diklat Kementrian Agama RI), Rudi Alfonso, Hj. Nurjannah hammadiyah, Safruddin kino, Natsir Rahmat dan Rukman Karumpa, Serta seratus peserta undangan, empat puluh lebih mahasiswa, dan masyarakat berkisar empat puluh an juga ikut meramaikan.
Namun, saya tidak akan berbicara mengenai keseruan acara mubes dan proses berjalannya sampai pada pemilihan ketua baru KKMSB. Saya lebih tertarik melihat dari sisi nilai ke-mandar-an yang disampaikan oleh ayahanda Prof. Ahmad Sewang waktu itu. Beliau memulai dengan bahasa “Sialei Gau’ Pura Loa, Pe’gurui Tongangi Gau Mamanya, Na Mupijarammingi Disese Apianna Gau Manini Makkeguna Di Alawemu Anna Lita’” Tengoklah perbuatan yang telah dilakukan masa lalu, pelajari dengan kesungguhan perbuatan masa kini, agar ia menjadi cermin dan ia berguna untuk dirimu dan untuk tanah air.
Pesan ini hendak memberi pesan bahwa Nilai kemandaran dan agama hari ini sangat berkaitan dengan sejarah masa lalu, sayangnya, budaya mandar yang digarap masih 5% selebihnya 95% masih hutan belantara yang belum terbabat. Serpihan sejarah itu, masih bisa kita lihat pada catatan W.J. Layds pada masa kerajaan balanipa, dengan raja IV yang bernama Daetta alias Kanna I Pattang memerintah pada abad XVII.
Dikatakan bahwa saat itulah agama dan mandar tidak terpisahkan, itu bisa dilihat dari kalimat kuno mandar “Naiyya ada’, syara’ nala sulo. Naiyya syara’, ada’ nala gassing. Matei ada’ mua’ nandiang syara’, matei syara’ mua’ nandian ada’” Adapun adat menjadikan syariat sebagai pedoman. Sementara kekuatan syariat terletak pada adat. Adat tidak akan bermakna tanpa syariat, syariat tidak bermakna tanpa ditunjang adat.
Selain berbicara tentang agama, kita juga bisa menemukan korelasi antara mandar dan pendidikan, seperti Daetta pernah berkata: “Naiyya mukim, tanna indoi allo, tanna imbui iri’, tandi papambawai, tandi pappattewei. Malolli dai di timor tammangapa-ngapa, malolli naun di wara tammangapa-ngapa”. Para santri atau mahasiswa yang belajar di pondok, dibebaskan semua dari kewajiban Negara, seperti pajak. Agar mereka bisa berkonsentrasi kepada studi pendidikan mereka.
Abad ke-20 majene sebagai ibu kota afdeling mandar, disana didirikan sekolah tsanawiah, pengajarnya didatangkan dari Sumatra barat, bernama H. Kamaluddin, darwis zakariah dan darwis amini (alumni mesir). Sedangkan dari pulau jawa bernama raden sunarmo, masaji dan suaji. Sekolah itu mengalami perkembangan pesat sehingga beberapa daerah berdatangan untuk belajar, seperti Maluku, nusa tenggara barat. Bagian Sulawesi dari daerah pinrang, palopo, bulukumba, bantaeng, Makassar, pasangkayu, toil toil, bahkan Halmahera, bima dan nusa tenggara barat pun ikut belajar.
Pendidikan pertama ini berada di majene pada tahun 1933 dan mulai diajarkan spirit nasionalisme dan patriotism mempertahankan kemerdekaan RI. Dari sinilah cikal bakal pembantaian korban 40 ribu jiwa di Sulawesi selatan dan barat oleh westerling. Abd. Jalil adalah salah satu korbannya yang merupakan alumni sekolah tsanawiah. Sebagian mereka yang menjadi korban ada yang memegang peranan penting setelah kemerdekaan seperti Suaeb Pasang (mantan bupati takalar), Abd Latief (mantan ketua DPRD Sulawesi selatan), Abd. Razak (mantan ketua MUI polewali mamasa) dan Hamusta Ibrahim (mantan kepala kantor kementrian agama RI majene).
Perkembangan pendidikan di sulbar hari ini sudah memiliki beberapa perguruan tinggi sebagai upaya pencerdasan masyarakat mandar. Pendidikan sangat relative lambat, sebab sebelumnya masih diperintah battalion 7.10. setelah itu barulah anak anak mandar menempuh pendidikan kuliah di Makassar. Tahun 1962 anak mandar yang menyandang sarja pertama kali adalah Prof. Baharuddin Lopa, S.H. Kemudian beliau menjabat bupati pertama majene, bupati termuda dari seluruh Indonesia baru berumur 25 tahun. Pendidikan sarat dengan makna literasi, sehingga Prof. Ahmad sewang juga berbicara tentang literasi dalam budaya mandar. Kemudian etos kerja, transformasi faham takdir, prasyarat menjadi pemimpin dalam mandar, semangat profesionalism dalam mandar, terakhir beliau memaparkan relevansi budaya mandar dengan zaman now dengan kata “Provinsi Malebbi’”. Insya Allah tema-tema pembahasan itu akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.
Wallahu a’lam bis showab…
Comments
Post a Comment