Pemikiran Islam di Nusantara

REKONSTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM DI NUSANTARA

(Orasi DR. Muhammad Zain)

Oleh: Farham Rahmat

Santri Milenial

Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta DR. Muhammad Zain menghadiri seminar International dengan tema “Trend Perkembangan Pemikiran Islam di Asia Tenggara” di auditorium STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah jum’at 28 Desember 2018. Dalam acara tersebut hadir Prof. DR. Harapandi Dahri pensyarah di kolej university perguruan ugama (KUPU) Brunei Darussalam juga sebagai alumni STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah menjadi Narasumber, panel dengan Prof. Muhammadiyah Amin dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI, meskipun beliau berhalangan hadir.

Rekto STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah menyampaikan pesan singkat namun ilmiah kepada para mahasiswanya pada kesempatan membuka seminar internasional tersebut. Beliau memulai dengan menyuguhkan satu buah buku yang fenomenal dan wajib dikaji oleh para dosen dan mahasiswa secara tuntas. Buku itu ditulis oleh Prof. Sir Muhammad Iqbal  judulnya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam”.  Setelah anda membaca buku itu, dimanapun anda berada dan kepada siapapun anda bicara, anda bisa tegak kepalanya ketika sudah membaca buku itu dalam konteks kekinian, pungkas DR. Muhammad Zain.

Mengapa buku ini ? lanjut beliau, karena buku ini ditulis oleh seorang filosof berkebangsaan Pakistan dan menyelesaikan Doktor di inggris serta menguasai filsafat Persia, itulah yang membuat buku tersebut kaya akan perspektif. Buku ini diterjemahkan dalam dua edisi, pertama oleh Ali Auda, HB. Jassin dan Goenawan Mohamed edisi lama dan Musa Kazhim edisi baru.

Dalam buku itu Pak Rektor mengulas habis beberapa point penting, diantaranya menegaskan bahwa konservatisme pemikiran dalam islam hanya akan memandekkan peradaban dan menutup pintu pintu ijtihad, itu yang pertama. Yang kedua adalah apakah di surga kita semua berjenis kelamin laki laki atau perempuan ? sebagaimana halnya selama ini bidadari selalu dipersepsi perempuan, apakah urusan dunia tidak selesai ? kenapa masih ada bidadari di syurga ? jawabannya adalah kita tidak tahu. Setelah kita dibangkitkan kembali di hari kiamat wujud kita ini adalah manusia baru, apakah laki laki atau perempuan ? bidadari yang cantik, Al-Qur’an menyebutnya حورن عين  dan bidadara yang ganteng disebut ن مخلدونولدا artinya ketampanan yang dilanggengkan.

Atau pertanyaan apakah surga neraka adalah tempat ? apakah surga untuk membalas kebaikan manusia dan neraka adalah tempat balas dendam Tuhan kepada makhluknya yang berdosa ? atau bukan tempat ? atau dia hanyalah situasi tertentu ?, DR. Zein memberikan contoh sederhana, “Air ini nikmat bagi yang sehat, namun siksa bagi yang sakit tenggorokan” semua pertanyaan ini sudah selesai dalam buku itu. Selanjutnya beliau berkata, kita semua ini tidak tahu apakah termasuk penghuni syurga atau penghuni neraka ? tidak ada yang bisa menjamin keotentikan sebuah kitab, seperti kitab Shohih Bukhari, Shohih Muslim, Muqoddimah Ibnu Khaldun dan seterusnya apakah kitab tersebut otentik atau tidak ?, satu-satunya yang otentik adalah Al-Qur’an dan saya yakin kebenarannya, tegas beliau.

Alasannya karena ada dua jilid mushaf Al-Qur’an yang dicetak berdasarkan Rasm Utsmani yang dimiliki oleh beliau, cek per cek tidak ada yang berubah sesuai dengan cetakan pertama masa Khalifah Utsman. Mushaf  ini disusun berdasarkan enam mushaf yang ditulis pada zaman Utsman Bin Affan sebagai manuskrip, dan masih ditemukan di Makkah Madinah, Syiria, Istana Topkapi Istambul Turki,  St Petersburg Moscow, London inggris, dan Kairo Mesir.

Rekonstruksi pemikiran islam juga pada ulama nusantara, mereka merekam dan mempelajari isi kandungan Al-Qur’an, satu contoh ulama yang pertama kali  mengeluarkan fatwa wajibnya peti jenazah adalah Muhammad Arsyad Al-Banjari, karena kota Martapura Banjarmasin Kalimantan selatan posisinya di daerah rawa-rawa, kalau mayat dikuburkan tidak pakai peti jenazah, maka dua tiga hari kemudian akan terapung. Fatwa Ulama Nusantara sudah menjadi bahan perdebatan ulama luar dalam kitab Muhimmat Al-Lathif tentang fatwa kontroversi syarat pernikahan pertama adalah memperlihatkan dalam tanda kutip “anunya” kepada calon mertuanya. Ternyata khitan itu penting pada masa tersebut, apakah calon menantu itu anunya itu sudah khitan atau tidak, (peserta seminar tertawa).

Terakhir, beliau menutup dengan membincang bencana alam yang kerap terjadi. Banten sebelum tsunami mereka sudah mengumpulkan para filolog bersama kementrian agama yang dikordinatori Kapus LKKMO DR. Muhammad zain. Semua bencana alam sudah direkam oleh para ulama nusantara kita dalam tulisan klasiknya. Ini menjadi bukti ketika ditemukannya manuskrip Al-Qur’an berbahasa jawi pertama perjumpaan islam awal dengan jawa, kitab Tabhsir Al-Anam ditulis oleh Ki Bagus Ngarfah tahun 1905, punya guru bernama Kiyai Saleh Darat, dan Kiyai Saleh darat ini adalah guru Raden Ajeng Kartini, yang pada saat kartini menikah dia diberikan hadiah Tafsir Al-Qur’an pertama berbahasa Jawi.

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

KETIKA YANG PAKAR MALAH DIABAIKAN

LITERASI DIGITAL UNTUK DESA