Romantisisme Agama

"ROMANTIS DALAM BERAGAMA"

Oleh: Farham Rahmat

Santri Millenial

Dalam teori psikologi bahwa Seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, kelak akan merusak masa depannya. Jika ada orang tua yang menelantarkan atau tidak mengurusi anak-anaknya, konsekwensi logis adalah Kepribadian akan terganggu, prestasi akademik terbelenggu, dalam dunia social dia dikucilkan. Akhirnya dalam diri si anak muncul gairah untuk memberontak, melawan system kemasyarakatan. Teori seperti ini sudah lazim terjadi didalam keluarga yang disebut dengan Broken Home. Seperti perjalanan hidup narapidana di nusakambangan Andre Bangun. Dia melawan kerasnya hidup sendiri tanpa bimbingan keluarga, terjebaklah dia pada pemberontakan instingtif.

Namun teori ini tidak berlaku sama sekali untuk seorang anak yang telah ditinggal ibunya waktu balita. Dan bapaknya menikah lagi, akhirnya dia  menjadi gelandangan. Meskipun tidak mendapat bimbingan lansung dari keduanya, dia kerap mencari panti asuhan dan perlindungan seorang diri, dan pada akhirnya diusir dan ditolak. Mengembara seorang diri  sejak dari Austria sampai ke jerman, dari swiss sampai ke prancis. Di prancis dia menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Sosok yang saya bicarakan adalah peletak pertama rumus revolusi prancis. Penulis pertama filsafat pendidikan di dunia dan Seorang pilsuf yang paling berpengaruh di abad ke-18. Dia adalah JEAN JACQUES REASSOU.

Salah satu pemikiran Reassou adalah Romantisisme Agama. Paham ini menjadikan perasaan sebagai andalan tolak ukur mendekati kebenaran ketimbang akal. Romantisisme menekankan agar beragama menggunakan perasaan bukan pikiran. Menggunakan pikiran hanya akan menambah masalah dalam agama. Reassou mengajarkan kepada kita, “Begitu Banyak Manusia Cerdas Yang Pernah Saya Temui, Namun Sangat Sedikit Orang Yang Bisa Dipercaya”. Argument seperti ini berpesan bahwa kita seharusnya lebih percaya kepada orang yang berperasaan tajam. Bukan percaya kepada orang yang pikirannya hebat.

Begitu banyak the big problem terjadi karena ulah orang orang pintar. Penggelapan uang miliaran cukup dengan cap dan tanda tangan yang tidak sampai tiga detik saja. Mereka meggunakan akal pikirannya untuk mengelabuhi masyarakat banyak. Korupsi, pembuatan senjata mematikaan, pembuatan obat obatan narkoba, peampokan sumber daya alam semuanya di topang dan telah dibentuk secantik mungkin dengan design yang halus oleh manusia cerdik. Pembodohan dimana mana, mengatasnamakan agama dan bangsa oleh mereka yang merasa pintar namun bukan mereka yang pintar merasa. Manusia yang merasa pintar cenderung menggunakan akalnya untuk membodohi. Sementara manusia yang pintar merasa pandai dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Hanya perasaanlah yang mampu memahami penderitaan orang lain. Dan dengan perasaan pulalah hati tergerak untuk membantu, sebab didalamnya terisi oleh cinta. Sebagaimana ketika Ibnu Arabi ditanya tentang cinta. Dia berkata “Jika engkau belum merasakan cinta, berarti engkau belum memahaminya”  kejahatan dan mendzholimi sesama adalah bentuk kebencian dan pemberontakan hawa nafsu. Maka hanya cinta yang mampu membendung dan merubahnya menjadi kedamaian semerbak. Saling menghormati dan menyayangi antar sesama adalah subtansi agama. Agama adalah cinta. Inilah maksud  Jean Jacques Reassou yang mengajarkan bahwa beragamalah dengan perasaan, karena perasaan lah engkau dapat merasakan penderitaan manusia lain dari muara cinta.

Comments

Popular posts from this blog

SYUKUR PANENGAN FILOSOFI TARI MAPPADENDANG

KETIKA YANG PAKAR MALAH DIABAIKAN

LITERASI DIGITAL UNTUK DESA