HAKIKAT SHOLAT DALAM SYAIR PARRAWANA TOWAINE
Oleh:
Alan
Santri Milenial
Pesan dakwah islam di tanah mandar, dalam syair - syair Parrawana Towaine ditampilkan oleh adik-adik Sambawaliwali dalam acara halal bi halal desa luyo. Pesan yang berbahasa mandar namun kaya akan makna membuat hening alam sekitar. Dikatakan dalam penggalan syair itu adalah
“Manu-Manu di suruga Saicco polewoi, mappettuleang tosukku sambayanna”. (Burung-burung di syurga, sedikit-sedikit menampakkan diri, datang menanyakan manusia yang paripurna sholatnya).
Penggunaan diksi “Sukku” yang berarti sempurna, memberikan makna khusus untuk orang yang mencapai kesempurnaan dalam sholatnya. Sementara dalam penggunaan diksi bahasa arab, sempurna ada dua kata yang sering kita dengar yaitu تمام dan كمال. Perbandingan diksi Tamam dan Kamal ada dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 3
أليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتئ ورضيت لكم ألإسلم دينا
Kata kamal lebih awal ketimbang tamam, kalimat setelahnya pun berbeda, kamal disandingkan dengan agama “akmaltu lakum dinakum” telah kusempurnakan agama kalian, sementara tamam disandingkan dengan nikmat “wa atmamtu alaikum nikmati” telah kucukupkan bagimu nikmatku.
Apa makna dari kedua diksi ini?, secara bahasa, biasa diartikan cukup dan sempurna, bahasa mandar menyebutnya “sukku” dan “tammu/ganna”. Penggunaan kamal sempurna disandingkan dengan agama karena sifatnya kualitas bukan kuantitas. Sebab agama yang dimaksud dalam ayat itu hanya satu yaitu “roditu lakum al-islama dina” meridhoi bagi kalian islam sebagai agama.
Sementara tamam digandengkan dengan nikmat, sebab nikmat bisa bermacam-macam dalam realitasnya, seperti harta yang banyak, sawah ladang yang luas, jabatan yang tinggi, keluarga yang harmonis, sandang pangan yang cukup, jiwa dan raga sehat bugar dan masih banyak lagi. Sehingga penggunaan kata cukup untuk nikmat juga membatasi penggunaan nikmat yang berlebihan.
Arti sederhananya adalah, jika hanya dengan sisa nasi bahasa mandarnya “lekke” cukup mengenyangkan, mengapa mesti makan makanan mahal jutaan rupiah seperti tokyo dog junni bun, the budha jumps over the wall soup, fugu, the zillion lobster fittata, the glamburger, the not so por man’s pizza, fleurburger dan masih banyak lagi di restaurant? Jika hanya lima pasang baju, cukup untuk menutup aurat, mengapa mesti puluhan pakaian kita koleksi? Jika hanya bisa hidup dengan sandang pangan cukup seadanya, mengapa mesti menimbung harta? Jika hanya satu ember air untuk kebutuhan sehari-hari cukup, mengapa harus boros penggunaan air?
Makna kata cukup, memberikan pelajaran tentang arti kesederhanaan. Hidup sederhana akan memberikan kehidupan kepada orang miskin. Hidup sederhana bisa memberikan sandang pangan, nasi kepada tetangga yang kurang mampu, hidup sederhana bisa menutupi aurat saudara kita yang tidak mampu membeli pakaian cukup, hidup sederhana memberikan air kepada makhluk lain yang membutuhkan air, hidup sederhana bisa berbagi kepada mereka yang tidak mampu. Tamam juga bisa dianalogikan seperti janin, seluruh anggota tubuh sang janin terbentuk, maka itu disebut sempurna secara bagian-bagian fisik, namun belum tentu sempurna sebagai manusia hakiki.
Kita telah sampai pada kesimpulan pertama, bahwa dalam syair parrawana towaine, esensi sholat menggunakan dua diksi itu, namun lebih tepat menggunakan diksi kamal bukan tamam. Sholat yang tamam tidak ubahnya seperti kelengkapan rukun sholat, dimulai dari takbir sampai salam, tanpa ada kurang sedikitpun. Secara ilmu fiqih, sholat tamam juga harus, jika tidak maka tidak akan sah sebagai bentuk sholat. Tidak cukup hanya tamam saja, sholat harus kamal, sempurna secara kualitas. Kamal sendiri memiliki beberapa makna, salah satunya adalah “keterjagaan”.
Ketika Allah menyempurnakan agama, konsekwensi logis bukan hanya pada hari itu saja, melainkan sampai akhir zaman, artinya apa? Islam agama yang sudah dijamin oleh Allah harus terjaga, baik secara esensi ataupun eksistensi sampai hari akhir. Selain lengkap rukun sholatnya, juga harus terjaga dalam pelaksanaannya. Tidak seperti contoh, hari ini sholat, besok tidak, atau sholat maghrib dan isya dikerjakan, sholat dzhuhur, ashar, subuh tertinggal. Bahkan ada yang sholat satu kali dalam seminggu hanya hari jum’at, lebih celaka lagi dua kali dalam setahun, hanya idul fitri dan idul adha saja. Jadi, untuk mencapai kesempurnaan “sukku” sholat, syaratnya lengkap rukun sholat dan terjaga dalam pelaksanannya.
Sekarang kita bicara kamal secara tasawwuf, tentang paripurna dalam kualitas sholat. Sholat paripurna hanya bisa diukur pada person/orangnya. Apakah dia telah sampai atau tidak, karena sholat secara kajian bahasa berasal dari kata وصل-يصل artinya “Sampai” siapa yang sampai dan kemana sampainya ? yang sampai adalah yang menyembah (al-abid) dan tempat sampainya adalah yang disembah (al-ma’bud).
Artinya, jika sudah sampai, maka letak rahasia sholat tergantung bagaimana person si musholli meyaksikan dzat Maha agung yang disembah. Sholat yaitu meniadakan nama dan keberadaan. Mengaku punya keberadaan dan nama, juga merupakan ego tersendiri, sebab keberadaan hanya milik Allah. Tingkatan paling tinggi sholat bukan sampai tidak sholat nauzhu billah, namun dia tidak terikat lagi dengan bentuk sholat.
Puncaknya, terletak pada penyaksian Allah “Dan sembahlah tuhamu hingga keyakinan mendatangimu” lalu sampai pada tingkat “La hawla wa la quwwata illa billah” tidak ada kekuatan kecuail kekuatan Allah, lalu sampai pada “La ilaha illallah” terkhir “La maujuda illa huwa” tidak ada ada, kecuali dia. Penyaksian keindahan Allah, membuat persepsi manusia terputus (Inqitha’), semua pengaruh duniawi hilang. Persis yang diceritakan al-Qur’an surah yusuf:31
“ _Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia_ ."
Itu baru keindahan Nabi Yusuf, bagaimana dengan keindahan Allah zat yang Maha indah ? para sufi yang telah melalui riyadhah berdarah-darah menempuh penyucian jiwa sudah menyaksikan keindahan tiada tara itu. Mereka yang sampai pada paripurna sholat tampak padanya ciri-ciri, syair parrawana towaine menyebutkan ciri-ciri itu, yaitu “Laeng toi tia dita tosukku sambayanna. Allah juqnu kedzona setinja dai peitanna. Juqnu naung dipamula setinja dai mindaung sadar membura sila sila. Ciri itu akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya dalam shalat sufistik.
Luyo, 17 Juli 2019

Comments
Post a Comment