SEORANG ANAK MENGKRITIK TUHAN
Kala itu, malam menyelimuti para pengungsi gempa bumi dusun takapa desa lombang. Kampung yang dulu damai penuh kebahagiaan kini menjadi sepi hampir menjadi desa mati. Tak satupun rumah layak dihuni. Anak-anak yang dulunya bermain di pelataran rumah sudah tidak nampak. Mereka belajar ngaji dan ilmu keislaman di masjid, bergeser ke lapang pengunsian yang hanya beralaskan daun beratap langit.
Tatapan mereka penuh makna, seakan ingin bersenandung dan berbincang dengan takdir, mengapa harus begini? Walau begitu, harapan tidak boleh mati. Perjuangan masih panjang, masa depan harus lebih baik. Seorang bapak berkata: "Mungkin ini cara Tuhan menegur kita untuk hidup sederhana" Rumah yang megah dihiasi dipan-dipan telah menjadi bangkai tak layak huni. "Itu bata yang kita susun rapi sebenarnya tidak sadar membuat kuburan kita sendiri" Kata Ayah Nurul sambil melihat kebawah tanah.
Bermacam-macam sikap emosional menafsirkan tragedi gempa, kadang mereka takut, trauma, semangat, instropeksi diri, sabar, sedih, bahkan ada yang marah. Seorang Anak Kecil Bernama Abdul Khalik meluapkan amarahnya dengan mengkritik Tuhan. Suatu hari, gempa berkekuatan 4,2 menghantam di sore hari, itu sebagai peringatan bahwa akan ada gempa susulan. Semua warga keluar dari rumah. Namun juga ada warga yang kembali ke rumahnya.
Gempa berkekuatan 6.2 kembali menghantam disaat mereka tertidur pulas. Dibawah guyuran hujan yang deras malam itu, semua berlari tak peduli hujan mengguyur. Rumah seketika kosong tak berpenghuni, ada bayi yang sementara sakit, digendong keluar rumah harus rela anaknya kedinginan dari terpaan hujan tanpa pelindung apapun. Akhirnya sang bayi meninggal dunia.
Disamping rumahnya, juga punya kisah sendiri. Seorang nenek yang baru dapat hadiah bedah rumah hanya tinggal dengan dua anak gadisnya, satu sudah menikah dan punya anak. Anak inilah yang mengkritik Tuhan, matanya berlinang air mata dan mengeluh kepada neneknya sambil berkata "Nenek... Kenapa ini terjadi? Gengge sannali puang nakara karae' sapo ta"
Sepintas lalu khalik ingin marah kepada Tuhan karena telah merusak rumahnya, dalam fikirannya Tuhan menyerupai sosok Manusia raksasa yang Mahakuat. Sosok Tuhan yang punya amarah dan bisa salah, juga jadi penghancur. Informasi yang dia dapatkan dari semua bunyi omongan dari para orang tua. Hampir setiap hari pasca gempa dia mendengar kata kata: "Nandian Elo' sangadinna elo'na Puang, atau Gempa ini elo'na puang, atau Kuasanna Puang"
Kalimat ini pasti terdengar ketika terjadi bencana apapun itu, namun kiritikan anak kecil seperti Khalik terhadap Tuhan menarik untuk kita bahas. Apakah memang Tuhan punya sisi jahat atau kemurkaan sehingga menghukum manusia? Atau itu bentuk hukum alam saja? Atau bentuk dari Kasih sayang Tuhan kepada hambanya?
Seorang Pilsuf Leibniz meyakini Tuhan maha baik, hanya saja dunia diciptakan tidak sempurna, karena hanya Tuhanlah yang sempurna, tidak boleh ada sesuatu lain yang sempurna selain diri-Nya. Segala sesuatu yang terjadi pasti punya alasan, tapi manusia tidak tahu alasan Tuhan. Imam Al-Ghazali mengatakan "ليس في الإمكان أبدا مما كان" Dunia yang ada saat ini adalah sebaik-baik bentuk. Artinya meski tidak sempurna, tapi ukurannya sudah sangat baik.
Dalam Filsafat islam, Ada empat kategori membaca bencana. Pertama, Keniscayaan, bahwa gempa hanyalah proses alam yang menyempurnakan dirinya, menata struktur tanahnya, hanya saja manusia diatas mengalami guncangan.
Kedua, Harmoni. Tuhan sudah meletakkan ukuran kualitas dan kuantitas alam, sehingga berkurang sedikit saja, alam akan mengatur dirinya agar tetap seimbang. Jika manusia menabrak keseimbangan semesta itu, maka dia akan memperbaiki dirinya secara otomatis.
Fase ketiga akan mencapai keadilan Tuhan, semua bencana memang seperti itu adanya sesuai komposisi alam yang berubah. Menempatkan dzat pada tempatnya, yang kurang ditambah, yang berlebihan dikurangi, itu bentuk keadilan Tuhan pada semesta. Sehingga keempat kita kenal Hikmah, bahwa semua bencana dan penderitaan ini adalah bentuk kasih sayang dan keadilan Tuhan.
Ada juga Neil degrass tyson pakar sains menganut teori Antroposentris, yaitu faham tentang manusia yang mendapatkan respon alam karena kesombongannya menjadi subjek. Ini yang disebut Epifani yaitu sesuatu yang pasrah, tersembunyi dari alam akan muncul dan mengajarkan kita bahwa bukan manusia saja yang kuasa, kami pun bisa menghancurkan.
Teori Frekuensi juga mengatakan bahwa alam hakikatnya adalah cerminan manusia, bagaimana sifat dan perilaku kita kepada alam, maka sepeti itu jugalah alam bersikap. Seperti Masaru Emoto meneliti sifat air ketika dibacakan ayat suci atau diberikan kata-kata kotor. Tidak heran jika air yang ditiupkan oleh ulama sebagai do'a bisa menjadi penyembuh, karena respon air itu.
Tapi, Ada juga teori Blamming the Victim menyalahkan korban, ini kebanyakan terjadi di masyarakat. Menganggap Bencana sebagai Azab Tuhan. Jika faham ini dibiarkan bisa sampe pada tahap extrem, bisa berubah menjadi blamming the God menyalahkan Tuhan. Untuk itu, mari sekarang kita berangkat dari Dua Firman Tuhan yang agak kontradiksi, Q.S At-Taubah:51
"Katakanlah Muhammad, sekali-kali tidak ada manfaat dan mudharat yang akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi Kami"
Sementara Q.S An-Nisa: 79 mengatakan: "Apa saja kebaikan yang engkau peroleh dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka kesalahan dari dirimu sendiri"
Sepintas dua ayat ini berkontradiksi, satu sisi bencana dari ketetapan Allah, satu sisi bencana adalah hasil dari perbuatan manusia. Semua yang datang dari Tuhan adalah kebaikan, jika apapun keburukan menimpa kita berarti kita telah mengubah kebaikan Tuhan menjadi keburukan bagi kita. Dengan kata lain, semua yang terjadi adalah kebaikan dalam pandangan Tuhan, hanya saja kita tidak terbiasa menerimanya.
Coba perhatikan perspektif Ibnu Qudama, sangat menarik. Pertama-tama harus dibedakan dengan baik apa itu Amr (Perintah) Iradah (kehendak) dan ilmu (Ilmu). Tuhan memerintahkan semua manusia untuk baik, tapi Tuhan juga menghendaki keburukan, buktinya kalau bukan kehendak Tuhan, pastilah tidak akan terjadi kejahatan. Apakah Perintah Tuhan adalah kehendak Tuhan juga?
Contoh dalam Kitab Raudlat al-Nadzir, Iblis diperintahkan untuk bersujud pada Adam. Berarti sudah ada perintah kan. Lalu Iblis tidak mau sujud, lalu apakah Allah tidak tahu sebelumnya kalau iblis tidak akan mau sujud? Ya pasti tahu dong. Lalu, apakah Tuhan menghendaki Iblis supaya tidak sujud pada adam? Pasti menghendaki, karena kalau tidak, pasti tidak terjadi. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini adalah kehendak Tuhan? Lalu mengapa Tuhan membiarkan keburukan?
Jawaban aqidah Imam Al-Ghazali adalah, Tuhan memiliki Rencana Mahabesar Grand design untuk semesta. Dalam rencana ini, Tuhan Menghendaki, tapi tidak memberi perintah. Ada iblis yang jahat, Ada malaikat yang baik, manusia punya potensi keduanya. Dua kekuatan inilah yang saling tarik menarik, selalu Ada dalam kehidupan. Atau biasa kita sebut "Sunnat al-tadafu" Hukum aksi reaksi. Design Tuhan ini masih berada pada ranah Ontologis. Semua baik, termasuk aktor jahat juga baik, karena termasuk rencana Tuhan.
Tapi berbeda ketika sudah sampai ranah aksiologis. Disinilah manusia akan berbenturan dengan etika, moral serta hukum. Terciptalah perbuatan baik dan buruk, benar dan salah. Ikhtiar manusia mampu membedakan baik-buruk, sehingga alasan itulah mengapa Tuhan memberikan penderitaan dan hukuman karena sesuai dengan Ikhtiar yang sudah dapat tanda tangan persetujuan dari Tuhan. Sederhananya, Wilayah Ontologis semua baik karena bagian dari rencana Tuhan. Dan Kehendak Tuhan letaknya disini. Tapi tataran Aksiologis Ada perintah Tuhan untuk berbuat baik dan melawan keburukan. Yang dikehendaki belum tentu diperintahkan, yang diperintahkan belum tentu dikehendaki. Kira-kira gitulah...
Diksi musibah dalam literatur Bahasa Indonesia mengandung makna negatif, padahal musibah dalah bahasa Arab yang sudah bahasa Indonesia serap. Akar katanya adalah Ashaaba-yushibu-Musibatan artinya menimpa, sifatnya netral tidak membawa keburukan dan kebaikan. Hanya saja perspektif manusialah yang melahirkan sifat negatif dan positif. Contoh,
Ashaba bentuk kata kerja masih satu akar kata dengan Musibah, artinya kata kerja kadang melahirkan Hasanah (kebaikan) dan Sayyi'ah (keburukan), sehingga musibah bisa ditafsirkan sebagai Bala' atau Azab. Abdul Khalik mengartikan Tuhan memberikan Azab. Padahal kata Azab berasal dari kata Azbun dalam Surah Al-Furqan:53 yang alquran menunjuk kepada lautan, didalamnya ada air terasa manis dan segar.
Tuhan punya tujuan untuk menyempurnakan hambanya yang berbuat dosa, ini hanya bisa difahami dari perspektif Cinta. Atas dasar Cinta Tuhan, pendosa mendapat kesempatan untuk menyempurna melalui media Azab. Meskipun berbentuk hukuman, tetapi tujuannya baik, bukan balas dendam seperti kebanyakan manusia kepada musuhnya.
Terakhir, Basudewa Krisna berpesan kepada Drupadi disaat dirundung masalah, bahwa point pentingnya bukan dari masalah itu sendiri, tapi bagaimana anda menanggapi. Jika engkau biarkan sisi negatif dalam dirimu maka akan lahir sifat marah, tidak sabar, putus asa, serakah dan pasti mengundang kegelisahan. Namun jika energi positif menjadi bentengmu, maka lahirlah Kesabaran, kezuhudan, kesederhanaan, kedermawanan dan semua kebaikan. Sekarang mari nilai diri kita, apa kita menganggap Bencana ini Murka atau Cinta?
Lombang, 24 Januari 2020

Comments
Post a Comment