Posts

TUHAN, MENGAPA DIA BERBEDA?

Image
           "Tuhan Mengapa dia berbeda?" Itu bisikan di hatiku, terlintas pertama kali saat melihat salah satu anak yang mengungsi dari desa Salutahongan Kec. Malunda. Disaat temannya bermain begitu riang. Saling ejek, joget-joget dengar music, Agung hanya terdiam kaku, sesekali menggerakkan kakinya karena melihat temannya goyang-goyang. Moment paling mengharukan saat petang menjelang, tiba waktu maghrib. Semua anak-anak pengungsi berlomba masuk mushollah yang hanya beralaskan terpal, juga beratap terpal. Seperti ombak yang kejar-kejaran, mereka begitu tangkas mengambil Buku Iqra' sesuai dengan warna jilid masing masing. Beberapa anak mengambil Al-Qur'an sebagai tanda sudah menyelesaikan enam jilid buku Iqra' Mereka disiplin tapi lumayan bar-bar, menarik-narik baju lah, memanjat betis lah, merangkul pinggang, ada juga yang menjambak rambut dan merampas handphone di tangan. "Aduhh... Kegantenganku seketika menurun ini, tapi gak apa apa lah, demi kalian adek-a...

SEORANG ANAK MENGKRITIK TUHAN

Image
(Bercengkrama dengan Abd. Khalik)  Kala itu, malam menyelimuti para pengungsi gempa bumi dusun takapa desa lombang. Kampung yang dulu damai penuh kebahagiaan kini menjadi sepi hampir menjadi desa mati. Tak satupun rumah layak dihuni. Anak-anak yang dulunya bermain di pelataran rumah sudah tidak nampak. Mereka belajar ngaji dan ilmu keislaman di masjid, bergeser ke lapang pengunsian yang hanya beralaskan daun beratap langit.  Tatapan mereka penuh makna, seakan ingin bersenandung dan berbincang dengan takdir, mengapa harus begini? Walau begitu, harapan tidak boleh mati. Perjuangan masih panjang, masa depan harus lebih baik. Seorang bapak berkata: "Mungkin ini cara Tuhan menegur kita untuk hidup sederhana" Rumah yang megah dihiasi dipan-dipan telah menjadi bangkai tak layak huni. "Itu bata yang kita susun rapi sebenarnya tidak sadar membuat kuburan kita sendiri" Kata Ayah Nurul sambil melihat kebawah tanah. Bermacam-macam sikap emosional menafsirkan tragedi gempa, kada...

LITERASI DIGITAL UNTUK DESA

Image
Webinar LITERASI DIGITAL untuk masyarakat desa, Jum'at 25 Desember 2020 bersama tim juru bicara Presiden Kak Irendra Radjawali dan pemerintah kec. Luyo Bapak Muhammad Jumadil Tappawali. Diselenggarakan oleh Tomata Bassi Desa Puccadi bersama gabungan komunitas se-kec. Luyo. Sayang sekali jika moment ini tidak dituliskan pembahasannya.   Kak Irendra memulai dengan mendefinisikan Literasi dari kata Literatus artinya orang yang belajar. Maka kita harus mengosongkan kepala, membuka mata dan telinga, jangan langsung sok tahu tentang apa yang mau dipelajari. Literasi digital menurut Professor di University of North Carolina Amerika serikat mengatakan bahwa ada tiga komponen digital. Pertama, mencari dan mengkonsumsi isi digital. Kedua, Membuat dan mengisi konten digital. Ketiga, mengkomunikasikan konten digital ke masyarakat, khususnya masyarakat desa. Lalu, Kenapa literasi digital sangat penting untuk desa? Era revolusi industry 4.0 dimulai dari 1.0 mesin uap,   2.0 listri...

JADILAH SEPERTI ANAK UNTA

Image
 JADILAH SEPERTI IBNU LABUN (ANAK UNTA)                   Sumber photo: Pexel.com (Kajian Nahj Al-Balaghah Ust. Akbar Saleh)  Oleh: Farham Rahmat Ditengah tengah pusara politik yang makin menggerus kencang, masyarakat dihadapkan dengan realitas yang kabur dan political bullshit zaman now. Masyarakat dihidangkan dengan peta pertarungan dua kekuatan besar di negri ini, masing masing menganggap kelompok mereka yang paling benar dan kelompok sebelah pasti salah.  Tampilan seperti ini membuat masyarakat bingung mendeteksi sebuah kebenaran. Mirip seperti film jepang kuno berjudul “Rashomon” diceritakan dalam buku politik labirin Indonesia karya Alfan alfian. Berhadapan dengan dinamika politik buram seperti ini,  pesan Sayyidina Ali yang sungguh relevan untuk kita semua, membuka jalan dari jalan jalan tikus yang tercipta hari ini.  Diingatkan oleh pesan Sayyidina Ali dalam kitab Nahj Al-Balaghah:  “KUN FIL FITNATI KA IB...

SALAH POTONGAN RAMBUT BISA MEMICU KEMATIAN (Kisah teman yang terbeban jiwa)

Image
Salah potong rambut bisa mempercepat kematian. Asumsi ini lahir dari pengalaman pribadi dengan seuntai kisah yang pernah ada. Suatu waktu tepat pada hari sabtu 21 Desember 2019 saya dan teman dari Minangkabau bernama Rozi Yulianto mengikuti kelas grammar di salah satu kursusan pare Kediri Jawa timur. Setelah pulang kelas, kami selalu menyempatkan untuk berolahraga GYM. Namun kali ini berbeda, Rozi pergi mencukur rambutnya agar kelihatan gagah.                       Sumber photo: pexels.com Tiba di kos, kami berjumpa kembali bersama teman-teman yang lain disana. Terkejut melihat potongan rambut si Rozi yang agak aneh dari biasanya. Sisi bagian kanan terlihat rambut lebih tebal ketimbang sisi kiri. Salah satu dari kami menimpali dan berkata: “Mr. rozi, are you serious, your hair style like that?” sok-sok an kita ngomong inggris, kan memang sedang berada di kampung inggris. Rozi, kok gitu potongan rambutmu, tidak seimbang?. Spontan roz...